Drmasda's Blog

Just another WordPress.com weblog

POLA ASUH ORANGTUA DEMOKRATIS, EFIKASI-DIRI DAN KREATIVITAS REMAJA

Terbit pada Jurnal Psikologi Persona Volume 01 Nomor 01 Juni 2012

 

Oleh:

Kasiati

M. As’ad Djalali

Diah Sofiah

 

 

Abstract, Research for studies both simultaneous or partial correlation of democratic parenting and self-efficacy to creativity. Subject are 123 mid adolescence (60 boys  and 63 girls), ages from 16 to 18 years old. Data taken from scales of C.O.R.E for creativity, P.A.O.D for democatic parenting and ED-G for self-efficacy. Result of simultaneous test is R =  0,384, F =  10,349, p = 0,000 (p < 0,05). Democratic parenting and self-efficacy simultaneously and significant would have predicting creativity. R2 =  0,147 refer that 14,7% varians proportion on creativity would have explained from democratic parenting and self-effiacy, other for 85,3% could explained from other factors that not analyzed. Constant of 146,671 is score of creativity if no democratic parenting and self-efficacy. Result of partial test of democratic parenting t = 0,420, p = 0,675 (p > 0,05). Democratic parenting partially wasn’t correlated with creativity. Result of partial test of self-efficacy t = 4,534, p = 0,000 (p < 0,05). Self-efficacy partially was significantly positive correlated with creativity. The findings are discussed in terms of their implications for mid adolescent context.

 

Key words: creativity, democratic parenting, self-efficacy

 

Intisari, Penelitian mengkaji hubungan simultan dan parsial pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri dengan kreativitas. Subjek penelitian 123 remaja tengah (60 siswa laki-laki dan 63 siswa perempuan), usia 16 sampai dengan 18 tahun, sekolah SMA Negeri 7 Kediri kelas XII. Data kreativitas diperoleh dari skala C.O.R.E. Data pola asuh orangtua demokratis diperoleh dari skala P.A.O.D. Data efikasi-diri diperoleh dari skala ED-G. Hasil uji simultan R = 0,384, F = 10,349, p = 0,000 (p < 0,01). Variabel pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri secara simultan dan sangat signifikan memprediksi kreativitas. R2 = 0,147 menunjukkan 14,7% proporsi variasi kreativitas dapat dijelaskan melalui pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri, sisanya sebesar 85,3% dijelaskan faktor lain yang tidak dianalisis. Konstanta 146,671 adalah skor kreativitas jika tidak ada pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri. Hasil uji parsial pola asuh orangtua demokratis t = 0,420, p = 0,675 (p > 0,05). Variabel pola asuh orangtua demokratis secara tersendiri tidak berhubungan dengan kreativitas. Hasil uji parsial efikasi-diri t = 4,534, p = 0,000 (p < 0,01). Variabel efikasi-diri secara tersendiri berhubungan positif dan sangat signifikan dengan kreativitas.

 

Kata kunci: kreativitas, pola asuh demokratis, efikasi-diri

 

 


Orang bersikap tidak berdaya, berdiam diri, protes, menggantungkan harapan datangnya inspirasi cerdas dari orang pintar dan para pemimpin. Masalah yang dihadapi seharusnya mendorong banyak ide, gagasan, dan solusi kreatif (Rachman & Savitri, 2011). Kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara tergantung pada sumbangan kreatif berupa ide-ide, penemuan dan teknologi baru dari masyarakatnya (Heller dalam Suharnan, 2000).

Kreativitas tidak datang dengan sendirinya, namun perlu dikembangkan sejak dini (Icai , 2011). Potensi kreatif remaja akan aktual dalam bentuk perilaku, karena adanya rasa aman dan bebas (Hurlock dalam Munandar, 1999). Kebutuhan rasa aman yang diperlukan dalam tumbuh kembang kreativitas remaja akan terpenuhi dalam lingkungan keluarga berpola asuh demokratis (Mappiare, 1982). Dibanding keluarga biasa, dalam keluarga remaja kreatif tidak banyak aturan yang diberlakukan (Dacey dalam Munandar, 1999).

Efikasi-diri tinggi diteorisasikan memfasilitasi proses perubahan perilaku melalui pembentukan niat dan menterjemahkan niat pada perilaku (Bandura  dalam Scoltz dkk, 2007). Efikasi-diri didokumentasikan berpengaruh terhadap pendidikan, pelatihan, pengambilan keputusan, dan kreativitas (Arnold & O’Connor, 2006). Individu menghadapi faktor penghambat dengan alternatif berpikir kreatif untuk mewujudkan niat yang telah direncanakan. Penghalang tidak dapat diatasi dengan hanya sekali berfikir kreatif, individu membutuhkan efikasi-diri agar tetap merasa kompeten dan efektif menghadapi berbagai situasi yang penuh dengan tekanan (Schwarzer dkk, 1997). Bila alternatif-alternatif yang ditempuh tidak menyelesaikan masalah, efikasi-diri mendorong individu bergerak ke arah terobosan pemikiran kreatif yang tidak umum dan tidak lazim dalam menghadapi penyelesaian masalah (Guilford dalam Munandar, 1999).

 

Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan, berubah dari satu pendekatan ke pendekatan lainnya, dari satu cara berpikir ke cara lainnya dan menyediakan gagasan atau penyelesaian masalah yang tidak jelas dan tidak umum. Proses berpikir kreatif melibatkan Curiousity (mempertanyakan, eksperimentasi, eksplorasi, ekspedisi); Opennes to experiences (mencari informasi dan pengalaman, berfantasi, pengalaman positif dan negatif, menghargai karya seni-budaya, dan menerima pendapat orang lain); Risk tolerance (kesediaan mengambil resiko material, fisik, psikis dan sosial, dan; Energy (penggunaan energi fisik dan mental) (Suharnan, 2002).

 

Pola asuh orangtua demokratis

Pola asuh orangtua demokratis adalah penerapan demokrasi dalam pelatihan anak. Orangtua meminta remaja berpartisipasi dalam membuat keputusan tentang keluarga dan nasibnya sendiri; memberi penjelasan mengapa harus melakukan sesuatu atau mengapa tidak diizinkan melakukan sesuatu; mendorong remaja berpartisipasi dalam menciptakan peraturan keluarga dan konsekuensinya bagi dirinya sendiri; mendorong perilaku yang baik dengan penguatan positif (Champney; Lorr & Jenkins; Baldwin dalam Skinner dkk., 2005).

 

Efikasi-diri

Efikasi-diri menunjuk pada keyakinan individu tentang kepasitasnya untuk menggunakan kontrol peristiwa yang mempengaruhi hidupnya. Efikasi-diri umumnya difahami sebagai perilaku khusus dalam konteks lingkungan khusus. Efikasi-diri umum menunjuk pada stabilitas dan keyakinan global dalam kemampuan menghadapi tekanan secara efisien (Bandura; Maddux; Jerusalem &  Schwarzer dalam Mikkelsen & Einarsen, 2002). Efikasi-diri umum (Generalized Self-efficacy atau Global Self-efficacy) merupakan serangkaian keyakinan yang relatif bertahan lama bahwa individu dapat mengatasi masalah secara efektif dalam berbagai situasi (Oliver & Paull, 1995).

 

Pola asuh orangtua demokratis, efikasi diri dan kreativitas

Rasa aman terbentuk melalui tiga proses yang saling berhubungan, yaitu: Menerima remaja sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya; Mengusahakan suasana yang didalamnya tidak ada evaluasi eksternal, dan; Memberikan pengertian secara empatis (dapat ikut menghayati). Potensi kreatif  membutuhkan rasa aman. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap orang lain (Baumrind dalam Rusdijana, 2004).

Efikasi-diri memungkinkan individu memilih latar yang menantang, menjelajah lingkungan atau menciptakan lingkungan baru. Rasa kompeten dapat dianggap sebagai penguasaan pengalaman, pengalaman vikarius, persuai verbal, atau umpan balik fisiologis (Schwarzer dkk, 1997).

Efikasi-diri penting dalam tiga fase operasi regulasi-diri, yaitu pemikiran ke depan (sebuah latar tahap mengambil tindakan), kinerja (proses yang mempengaruhi perhatian dan tindakan), dan refleksi diri (upaya untuk menanggapi) (Elias & MacDonald, 2007). Dinamika psikologis efikasi-diri dalam berbagai latar akan mendorong individu untuk berfikir kreatif, memupuk rasa ingin tahu, membuka diri terhadap pengalaman, toleran terhadap resiko, dan menggunakan energi yang dimiliki. Efikasi-diri berkaitan dengan diri dan komponen penting sistem diri. Diri kreatif akan menghasilkan gagasan-gagasan orisinil, baru, berguna, efektif, dan otentik.

 

Hipotesis

  1. Pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri secara simultan berhubungan positif dengan kreativitas.
  2. Pola asuh orangtua demokratis berhubungan positif dengan kreativitas.
  3. Efikasi-diri berhubungan positif dengan kreativitas.

 

Subjek

Subjek penelitian adalah 123 remaja tengah (62 laki-laki dan 61 perempuan) usia 16 sampai dengan 18 tahun.

 

Alat ukur

Skala C.O.R.E (Curiosity, Opennes to Experiences, Risk Tolerance dan Energy) dari Suharnan (2002) digunakan untuk mengukur kreativitas. Corrected-Item-Total-Correlation 80 aitem Skala C.O.R.E adalah 0,73 sampai dengan 0,86, reliabilitas Alpha = 0,93. Skala terdiri dari 5-poin, sangat setuju skor 4, setuju skor 3, kurang setuju skor 2, tidak setuju skor 1 dan sangat tidak setuju skor 0.

Pola asuh orangtua demokratis diukur dengan skala P.A.O.D. Skala terdiri dari 44 aitem yang mengurai aspek-aspek dari Champney; Lorr dan Jenkins; Baldwin (dalam Skinner dkk., 2005), yaitu: Memberi pilihan; Memberi penjelasan; Pelibatan membuat aturan berikut akibatnya, dan; Memperkuat perilaku yang baik. Corrected-Item-Total-Correlation 0,253 s/d 0,778, reliabilitas Alpha = 0,749. Contoh aitem favourabel, “Orangtua menjelaskan cara yang benar ketika saya melakukan kesalahan.” Skala terdiri dari 5-poin, sangat setuju skor 4, setuju skor 3, tidak berpendapat skor 2, tidak setuju skor 1 dan sangat tidak setuju skor 0.

Efikasi-diri diukur skala Efikasi-Diri Global (ED-G) dari Jerusalem dan Schwarzer (dalam Schwarzer dkk., 1997) versi Bahasa Inggris yang diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Skala terdiri dari 4-poin, sama sekali tidak benar skor 0, agak benar skor 1, hampir benar skor 2 dan sepenuhnya benar skor 3. Bobot faktor 10-aitem skala efikasi-diri versi bahasa Inggris adalah 0,40 sampai dengan 0,73.

 

Hasil

Hasil uji simultan R =  0,384, F =  10,349, p = 0,000 (p < 0,01). Variabel pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri secara simultan dan sangat signifikan berhubungan dengan kreativitas. R2 = 0,147 menunjukkan 14,7% proporsi variasi kreativitas dapat dijelaskan melalui pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri, sisanya sebesar 85,3% dijelaskan faktor lain yang tidak dianalisis. Hipotesis pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri secara simultan berhubungan positif dengan kreativitas, diterima.

Hasil uji parsial pola asuh orangtua demokratis r parsial = 0,038, p = 0,675 (p > 0,05). Variabel pola asuh orangtua demokratis secara tersendiri tidak berhubungan dengan kreativitas. Hipotesis pola asuh orangtua demokratis berhubungan positif dengan kreativitas, ditolak.

Hasil uji parsial efikasi-diri r parsial = 0,382, p = 0,000 (p < 0,01). Variabel efikasi-diri secara tersendiri berhubungan positif dan sangat signifikan dengan kreativitas. Hipotesis efikasi-diri berhubungan positif dengan kreativitas, diterima.

 

Pembahasan

Pola asuh orangtua demokratis dan efikasi-diri secara simultan berlaku sebagai prediktor kreativitas. Variasi tinggi rendahnya kreativitas dapat dijelaskan melalui tinggi rendahnya penerapan pola asuh demokratis dan tinggi rendahnya efikasi-diri.

Hasil uji simultan dikoreksi dengan hasil uji parsial yang menunjukkan pola asuh orangtua demokratis tidak berhubungan dengan kreativitas. Efikasi-diri berhubungan positif dan sangat signifikan dengan kreativitas. Hubungan pola asuh orangtua demokratis dengan kreativitas dalam uji simultan dimungkinkan adanya faktor efikasi-diri. Hubungan parsial memberikan informasi tidak adanya hubungan pola asuh orangtua demokratis dengan kreativitas terjadi setelah mengontrol efikasi-diri. Hubungan efikasi-diri dengan kreativitas tetap terjadi dengan atau tanpa mengontrol pola asuh orangtua demokratis.

Kreativitas merupakan faktor internal yang tidak perlu stimulasi eksternal. Ketidakpastian akan menimbulkan rasa ingin tahu yang merrangsang sistem syaraf pusat. Rasa ingin tahu akan mengarahkan individu untuk berusaha mengurangi ketidakpastian. Teori curiosity (rasa ingin tahu) menyatakan ketika individu mengalami sesuatu yang baru, mengejutkan, tidak layak, atau kompleks akan menimbulkan rangsangan yang tinggi dalam sistem syaraf pusat (http://azifahituzahirah.blogspot.com/2011/06/teori-curiosity-berlyne-teori-rasa.html).

Rasa ingin tahu, keterbukaan pada pengalaman, toleransi terhadap resiko dan energi sebagai aspek-aspek kreativitas berfikir tidak membutuhkan perlakuan dalam bentuk pola asuh orangtua demokratis. Torrance (1970) menunjukkan hasil eksperimen perilaku kreatif di dalam kelas dan di tempat lain bukan semata-mata fungsi karakteristik individu, tetapi tergantung juga pada dorongan, penguatan, dan nilai perilaku seperti di lingkungan sekolah. Studi lebih lanjut mengarah pada satu prinsip yang digunakan untuk menciptakan suatu lingkungan, dimana nilai tinggi ditempatkan pada kreativitas individu dalam proses pembelajaran. Tetapi penelitian-penelitian lain menunjukkan temuan-temuan yang tidak kuat dan tidak selalu stabil.

Pola asuh otoriter, otoritatif dan demokratis semuanya tidak berhubungan dengan kreativitas remaja Pola asuh orangtua otoritatif dan demokratis secara empiris tidak mendorong kreativitas remaja, pola asuh otoriter tidak menghambat kreativitas remaja (Hidayati, 2011). Pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif tidak berhubungan dengan kreativitas. Tidak adanya hubungan pola asuh demokratis dengan kreativitas kemungkinan karena orangtua pada kenyataannya tidak dapat menggunakan salah satu pola asuh saja. Tetapi dilihat dari rerata empirik, kreativitas remaja dengan pola asuh permisif lebih tinggi dibandingkan dengan pola asuh demokratis dan otoriter (Kustiyah, 2006).

Tidak adanya hubungan pola asuh dengan kreativitas juga tidak konsisten. Pola asuh orangtua permisif berdasarkan hasil observasi diteorisasikan lebih berhubungan dengan kreativitas. Anak-anak yang telah dibesarkan dalam gaya pengasuhan permisif sering kreatif dan sukses akademis, dan dapat bergaul, tetapi mengalami masalah dalam lingkaran sosial karena tidak selalu mengerti atau dapat merespon dengan baik terhadap arus utama perilaku orang lain. Pola asuh permisif memungkinkan anak-anak untuk memiliki caranya sendiri (http://www.parentingstyles.co.uk/what-permissive-parenting.html).

Tidak adanya hubungan pola asuh dengan kreativitas kemungkinan karena faktor kepribadian orangtua, bukan masalah pola asuh orangtua. Orangtua dari anak-anak kreatif dilaporkan lebih banyak terlibat dalam minat dan hobi dibanding orang tua anak-anak yang tidak kreatif. Ibu anak-anak perempuan yang kreatif kurang dogmatis dibanding ibu dari anak-anak perempuan yang tidak kreatif. Kepribadian ayah lebih terkait dengan kreativitas anak laki-laki. Ayah anak laki-laki yang kreatif secara keseluruhan melukis sebuah gambar yang kurang menguntungkan bagi dirinya sendiri daripada ayah anak-anak yang tidak kreatif, dan menyatakan sifat-sifat seperti kemerdekaan, tanpa sosialisasi, kemurungan, dan lain-lain (Dewing & Taft, 1973).

Hubungan searah antara efikasi-diri global dengan kreativitas berfikir dimungkinkan karena keduanya merupakan variabel internal. Berfikir kreatif tidak didorong oleh faktor eksternal (pola asuh demokratis, otoritatif, permisif ) ataupun dibatasi pola asuh otoriter. Berfikir kreatif akan didorong oleh adanya efikasi-diri. Analisis hubungan efikasi-diri dengan kreativitas berfikir sesuai dengan teori efikasi-diri yang terbingkai dalam perspektif ideologi khusus, yaitu ideologi diri individu, bebas dari sejarah dan hambatan sosial, perjuangan dengan keyakinan bahwa individu dapat menjadi pemenang melebihi orang lain atau pencapaian orang lain. Hidup individu diarahkan oleh keyakinan efikasi pribadinya. Efikasi-diri mengacu pada keyakinan dalam kapasitas individu untuk mengorganisasi dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan (Franzblau & Moore, 2001).

 

Daftar pustaka

Arnold, J.A. & O’Connor, K.M. (2006). How Negotiator Self-Efficacy Drives Decisions to Pursue Mediation. Journal of Applied Social Psychology, 36, 11, 2649–2669.

Dewing, K., & Taft, R. (1973). Some characteristics of the parents of creative twelve-year-olds. Journal of Personality, 41, 1, 71–85.

Elias, S.M., & MacDonald, S. (2007). Using Past Performance, Proxy Efficacy, and Academic Self-Efficacy to Predict College Performance. Journal of Applied Social Psychology, 37, 11, 2518–2531.

Franzblau, S.H., & Moore, M. (2001). Socializing efficacy: a reconstruction of self-efficacy theory within the context of inequality. Journal of Community & Applied Social Psychology, 11, 2, 83–96.

Hidayati, S. (2011). Kreativitas Remaja Ditinjau dari Pola Asuh Dan Tingkat Pendidikan Orang Tua Pada SMU Se-Kota Palangka Raya. Tesis. Palangkaraya: STAIN-PLK. http://stainpalangkaraya.ac.id/digilib/gdl. php?mod=browse&op=read&id=stain-plk–srihidayat-32. Unduh 30/11/2011.

http://www.parentingstyles.co.uk/what-permissive-parenting.html. What is Permissive Parenting? Unduh 12 Juni 2011.

Icai. (2010). Krisis Kreativitas. http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/19/krisis-kreativitas/. Unduh 25 Agustus 2011.

Kustiyah (2010). Pengaruh pola asuh orang tua terhadap
kreativitas  anak. Naskah Publikasi. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.

Mappiare,  A. (1982). Psikologi remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Mikkelsen, E.G., & Einarsen, S. (2002). Relationships between exposure to bullying at work and psychological and psychosomatic health complaints: The role of state negative affectivity and generalized self–efficacy. Scandinavian Journal of Psychology. 43, 5, 397–405.

Munandar, S.C.U. (1999). Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Bakat Kreatif. Jakarta: Gramedia.

Oliver, J. M., & Paull. J.C. (1995). Self-esteem and self-efficacy; perceived parenting and family climate; and depression in university students. Journal of Clinical Psychology, 51, 4, 467–481.

Rachman. L., & Savitri, S. (2011). Krisis Kreativitas. http://www.eileenrachman.com/index.php?option=com_content&task=view&id=125&Itemid=9. Unduh 25 Agustus 2011.

Rusdijana. (2004). Rasa Percaya Diri Anak Adalah Pantulan Pola Asuh Orangtuanya. http://dwpptrijenewa.isuisse.com/bulletin/?m=200604. Unduh 12 Juni 2011.

Scholz, U., Sniehotta, F.F., Schüz, B., & Oeberst, A. (2007). Dynamics in Self-Regulation: Plan Execution Self-Efficacy and Mastery of Action Plans. Journal of Applied Social Psychology, 37, 11, 2706–2725.

Schwarzer, R., Bäßler, J., Kwiatek, P., Schröder, K., & Zhang, J.X. (1997). The Assessment of Optimistic Self-beliefs: Comparison of the German, Spanish, and Chinese Versions of the General Self-efficacy Scale. Applied Psychology, 46, 1, 69–88.

Skinner, E., Johnson, S., & Snyder, T. (2005). Six Dimensions of Parenting: A Motivational Model. Parenting: Science and Practice, 5, 2, 175–235.

Suharnan. (2000). Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi.

Suharnan. (2002). Skala C.O.R.E sebagai alternatif mengukur kreativitas: suatu pendekatan kepribadian. Anima Indonesian Psychological Journal, 18, 1, 36-56.

Teori Curiosity Berlyne: teori rasa ingin tahu. http://azifahituzahirah.blogspot.com/2011/06/teori-curiosity-berlyne-teori-rasa.html. Unduh 30/11/2011

Torrance, E. P. (1970). Rewarding Creative Behavior. Experiments in Classroom Creativity. Englewood Cliffs, N. J.: Prentice-Hall, Inc.  Psychology in the Schools, 7, 1, 1970, 102–103.


 


Juni 14, 2012 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: