Drmasda's Blog

Just another WordPress.com weblog

POLA KEPEMIMPINAN ORANG TUA DAN AGRESIVITAS REMAJA

                                                                                            Oleh: M. As’ad Djalali

 

ABSTRACT. Aggression is an aspect of personality. It grows and develops under the influence of heriditary and evironmetal fators. The family factor, especially the parental factor, as a part of the environmental factor, exerts a strong influence on the development of the personality. The purpose of this study  is to determine the relationship between the arental factor and adolescent aggression. Sample of 181 student were selected using multi stage cluster sampling from senior high school. They were given questionnaires to discover a correlation between perception to pattern of parental leadership and adollescent aggression. The leadership pattern consists of autoritative, democratic and permissive factors; whereas aggreassion consists of emotional verbal, sociophysical, asociophysical and destructive ones. The technique for analyzing data is Multiple Regression Analysis. The findings are as folows: There was apositive correlation between perception of autoritative parental leadersship pattern and adolescent aggression, a negative significant correlation between perception of democratic parental leadership pattern and adolescent aggression and a positive significant correlation between perception to permissive parental leadership and adolescent aggression. The leadership pattern which had the highest significant correlation and gives most contribution to adolescent aggression was the permissive leadership pattern. An additional finding was a positive correlation between inharmoniously parental interaction factor and asociophysical and destructive factors.

 

Key word: Parental leadership pattern and adolescent agrressivity.

 

INTISARI. Agresivitas adalah salahsatu aspek  kepribadian yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh faktor heriditer dan faktor lingkungan. Salahsatu faktor lingkungan yang sangat besar pengaruhnya, adalah faktor orang tua. Penelitian ini berusaha menungkap adanya keterkaitan antara pola kepemimpinan orang tua dengan agresivitas remaja. Pola kepemimpinan orang tua terdiri dari pola otoriter, demokratis dan permisif. Agresivitas remaja, meliputi agresivitas emosional verbal, pisik sosial, pisik antisosial dan destruktif. Sampel penelitian sebesar 181 orang yang diambil secara multy stage cluster sampling  dari empat sekolah menengah atas. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil yang didapat adalah: ada korelasi positif dan signifikan antara pola kepemimpinan orang tua otoriter dengan agresivitas, ada korelasi negatif dan signifikan antara pola kepemimpinan orang tua demokratis dengan agresivitas dan ada korelasi positif dan signifikan antara pola kepemimpinan orang tua permisif dengan agresivitas. Pola kepemimpinan yang paling besar kontribusinya terhadap agresivitas adalah pola kepemimpinan permisif. Temuan lain dalam penelitian ini yaitu  adanya korelasi positif antara ketidak harmonisan orang tua dengan agresivitas antisosial dan destruktif .

 

Kata kunci: Pola kepemimpinan orang tua dengan agresivitas remaja.

 

 

Pembinaan generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus pejuang bangsa dan pembangunan nasional dengan memberikan bekal ketrampilan, kepemimpinan, kesegran jasmani, daya kreasi, patriotisme, idealisme, kepribadian dan budi pekerti luhur  (Simanjuntak, 1980). Tetapi suatu kenyataan yang dijumpai, bahwa selama dua dasarwarsa terkhir ini, kenakalan remaja yang termasuk bagian dari generasi muda muncul dengan kwalitas yang selalu meningkat. Pada tahun 1960 an, kenakalan remaja nampak dengan gejala pemunculan cross boys dan cross girls, yang pada waktu itu dipandang sebagai jenis perilaku melanggar nilai dan norma yang sedang berlaku. Pada tahun 1970an , kenakalan remaja cukup memprihatinkan, dengan gejala pemakaian narkotika , kejahatan yang cukup serius, penyimpangan seksual dan penggunaan kekerasan. Pada tahun 1980an, kenakalan remaja menunjukkan gejala pengedaran dan penggunaan narkotika yang semakin meningkat, pelanggaran norma susila, penggunaan kekerasan, penganiayaan, pengeroyokan, dan perkelahian antarkelompok (Kusumah, 1985). Tahun 90an sampai saat ini gejala tersebut kelihatan semakin meningkat, baik dilihat dari segi intensitas dan kualitasnya, seperti perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Masalah kenakalan remaja yang merupakan gejala sosial yang menonjol saat ini, mengundang perhatian berbagai  pihak seperti orang tua, pendidik, masyarakat dan lembaga-lembaga pemerintah.

 

Kejahatan, penggunaan kekerasan, pemerkosaan, perkelahian antar kelompok, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh para remaja, dimungkinkan karena adanya dorongan agresif pada mereka. Agresivitas merupakan suatu motif yang ada pada setiap manusia, dan hal tersebut banyak dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor di dalam perkembangannya. Salah satu faktor yang diduga banyak mempengaruhi agresivitas remaja adalah faktor orang tua. Orang tua bertanggung jawab untuk memelihara, membesarkan, mendidik, menanamkan nilai-nilai, serta bertanggung jawab terhadap perkembangan kepribadian, dan bertugas untuk mengatur atau memimpin anak (Pikunas, 1976).

           

Pembinaan remaja adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan negara, termasuk didalamnya para pendidik, penegak hukum, agamawan, dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Yang menjadi permasalahan disini, yaitu sejauh mana pola kepemimpinan orang tua berkorelasi dengan agrsivitas remaja. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan masukan bagi semua pihak yang berkepentingan dengan masalah pembinaan generasi muda khususnya pembinaan remaja, mengingat generasi muda merupakan potensi sumber daya manusia yang begitu besar di Indonesia. Sekitar 30 % dari keseluruhan penduduk Indonesia adalah para pemuda yang ada pada usia 10 sampai dengan usia 24 tahun. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan pembangunan (Sarwono, 1985)

 

 

           

 

 
 
Agresivitas Remaja

 

Perkembangan manusia bermula sejak terjadinya proses konsepsi sampai ia dilahirkan dan berlangsung sampai menjelang mati. Tiap tahapan perkembangan dalam kehidupan, merupakan suatu transisi dari tahapan yang satu dengan yang lain. Masa remaja merupakan suatu masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa (Lerner dan Spanier, 1980). Secara garis besar, perkembangan remaja menyangkut tiga aspek yaitu, aspek fisik, aspek psikologis dan aspek social (Cole, 1963). Dalam masa remaja ini banyak problem-problem yang mungkin dihadapi oleh individu yaitu sehubungan dengan tugas-tugas perkembangannya, kebutuh-kebutuhannya serta posisinya yang ada pada masa transisi antara masa kanak-kanak  dan masa dewasa. Tugas perkembangan remaja ialah membina hubungan dengan teman-teman lain jenis, menerima peran sosial sebagai laki-laki  atau sebagai wanita, menerima keadaan fisiknya yang mampu memfungsikan secara efektif, mempunyai kemampuan memilih dan mempersiapkan diri sehubungan dengan dunia kerja, mencapai kemadirian  ekonomi, mempersiapkan diri untuk menuju kehidupan berumah tangga, mengembangkan ketrampilan dan kemampuan sehubungan dengankonsep-konsep intelektual yang diperlukan dalam rangka mencapai keberhasilan hidup sebagai warga masyarakat, serta memiliki sistem-sistem nilai dan etika yang dijadikan sebagai landasan didalam berperilaku. Keberhasilan didalam melakukan tugas-tugas perkembangan ini akan memberikan kesenangan bagi individu, dan apabila gagal maka individu yang bersangkutan akan merasa tidak bahagia (Havighurst, 1953).

 

Kebutuhan utama yang sifatnya psikologis bagi remaja, ialah kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, dan harga diri. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka keseimbangan kepribadian individu akan terganggu, dan individu tadi akan mengalami gangguan perilaku yang tidak bisa dipertanggung jawabkan (Martaniah, 1973). Sehubungan dengan tingkat perkembangannya, yang berada pada tingkat transisi, remaja cenderung menghadapi hal-hal yang sifatnya kontradiktif. Dia mulai mempunyai kecenderungan untuk melakukan sesuatu buat orang lain, tetapi ia sendiri masih mempunyai kecenderungan untuk selalu memperhatikan dirinya sendiri dengan sifat yang masih kekanak-kanakan. Remaja cenderung mengkhayalkan hal-hal yang muluk-muluk, cenderung berbuat antara sibuk dan malas, rindu dan kecewa, stres dan gembira yang sering tidak terduga-duga sebelumnya. Perkembangan seksualnya memberikan kecendurangan pada remaja untuk mencari kenikmatan diri dengan cara  menentang kultur yang ada. Remaja cenderung dihadapkan pada suatu problema yang begitu sulit; yaitu mereka dituntut untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan dirinya, sekaligus untuk orang lain, keluarga dan masyarakat (Pikunas, 1976, Hurlocck, 1976, Johnson dan Medinnus, 1974, Jersild, 1978). Problema yang begitu sulit tadi, akan diperparah jika remaja tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dan kebuuutuhan psikologisnya tidak terpenuhi, yang akhirnya akan berujung pada munculnya tinkahlaku yang tidak akseptabel.

 

Dorongan agresif adalah suatu aspek dari kepribadian manusia yang dibawa sejak lahir ( Freud lih. Hall dan Lindzey, 1981 dan Suryabrata, 1985, Feist & Feist, 2002). Teori etologi memandang bahwa agresivitas merupakan mekanisme katarsis yang menguras energi-energi yang ada pada individu, dan hal tersebut sifatnya instingtif (Jung, 1978, Baron & Byrne, 1991, Baron & Byrne, 2003). Freud menyatakan bahwa dorongan agresif merupakan suatu derivat dari insting mati (Hall dan Lindzey, 1981; Suryabrata, 1985, Feist & Feist, 2002). Freud juga memandang bahwa agresivitas itu sebagai akibat dari tidak terpenuhinya insting-insting seksual, dan merupakan suatu katarsis terhadap kompleks-kompleks terdesak (Jung, 1978, Baron & Byrne, 1991). Teori Frustration agression Hypotesis menyatakan bahwa agresivitas disebabkan karena frustasi (Jung, 1978, Baron & Byrne, 1991, Baron & Byrne, 2003). Agresivitas merupakan respons yang alamiah terhadap frustasi, yang dimaksudkan untuk menghilangkan sumber frustrasi itu sendiri (Spencer dan Kass, 1977). Teori Behaviourism memandang hahwa agresivitas itu timbul karena pengaruh lingkungan fisik, lingkungan sosial serta lingkungan budaya karena peniruan terhadap model (Jung, 1978; Ross, 1974, Hall, 1984 dan Bandura, lih. Petri, 1976, Baron & Byrne, 1991, Baron  & Byrne, 2000; Feist & Feist, 2002). Stimulasi lingkungan yang menyebabkan kesakitan fisik serta stimulus aversif akan menjadi stimulan bagi munculnya aggresivitas (Berkowitz, dkk; 1981, Baron & Byrne, 1991). Bentuk-bentuk agresivitas yang dilakukan manusia termasuk juga remaja menurut Murray dan Bellak dapat dikelompokkan menjadi agrsivitas emosional verbal, agresivitas fisik, sosial, agresivitas fisik asosial, dan agresivitas destruktif (Abt, 1959; Sukadji, 1982, Hall & Lindzey, 1985).

 

Pola Kepemimpinan Orang Tua

 

Salahsatu lingkungan yang besar kemungkinan pengaruhnya terhadap timbulnya agresivitas, adalah teman sebaya atau peer group nya di samping keluarga. Remaja yang ada pada masa transisi antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa dan ditandai dengan penderitaan batin yang hebat, cemas dan frustasi, begitu besar kemungkinannya untuk berperilaku agresif. Kegagalan remaja di dalam melakukan tugas-tugas perkembangan serta tidak terpenuhinya kebutuhan–kebutuhan remaja merupakan sumber frustrasi lain yang akan bermuara pada agresivitas. Prasangka sosial di antara remaja yang berkaitan dengan masalah etnis dan agama berkorelasi secara signifikan dengan agresivitas remaja (Evitasanti, dkk, 2000). Hal tersebut kemungkinan menjadi sumber persaingan dan  permusuhan di antara mereka. Adanya persaingan dan permusuhan di antara mereka memungkinkan mereka akan mudah terprofokasi dan merasa terancam sekalipun dalam masalah-masalah yang belum jelas. Adanya persaingan, rasa permusuhan dan perasaan terancam ini akan menjadi pemicu agresivitas remaja (Hubbard, 2001).

 

Lingkungan keluarga adalah  lingkungan yang paling utama bagi individu. Keluarga sebagai tempat persemaian perkembangan kepribadian anak, merupakan lingkungan yang paling penting peranannya (Cole, 1963, Pikunas, 1976, Conger, 1977). Keluarga dalam hal ini orang tua, sebagai orang yang melahirkan anak, bertugas memelihara, memberikan hiburan dan memberikan kasih sayang (Brown, 1961). Sehubungan dengan peranan orang tua dalam kaitannya dengan anak, Pikunas (1976) menyatakan, bahwa ibu bertugas sebagai pengasuh, perawat, memberikan stimulasi dan latihan-latihan, memberikan perlindungan dan kasih sayang. Di sisi lain, ayah bertugas memimpin dalam arti mengarahkan pendidikan, mengawasi perkembangan anak, melatih disiplin, dan melatih anak agar mampu menghadapi kenyataan-kenyataan hidup. Sekalipun peranan kepemimpinan didalam keluarga merupakan tugas utama ayah, tetapi Pikunas (1976) menegaskan, antara ayah dan ibu diperlukan kerjasamanya, terutama di dalam masalah memimpin anak-anaknya.

 

Masyarakat saat ini talah banyak yang menganut faham egalitarian dalam masalah memimpin anak-anaknya. Terutama bagi masyarakat yang sudah dianggap berpandangan maju; termasuk juga masyarakat Indonesia sekarang ini, masalah memimpin anak-anaknya bukanlah monopoli ayah saja. Lebih-lebih bagi ayah yang banyak bekerja di luar rumah, praktis masalah kepemimpinan di dalam keluarga ini akan lebih banyak ditangani oleh ibu. Orang tua sebagai pemimpin yang mengatur, mengarahkan, mengelola dan mengawasi anak-anaknya, menggunakan tiga pola kepemimpinan, yaitu otoriter, demokratis, dan permisif (Stewart dan Koch, 1983; Corsini dan Ozaki, 1984; Barnadib, 1986). Orang tua otoriter, cenderung suka memaksakan kehendaknya tanpa mengindahkan hak-hak anaknya, cenderung suka menghukum anak dan cenderung tidak ada komunikasi timbal balik antara orang tua dan anak. Orang tua yang demokratis, cenderung menempatkan pada posisi yang sama antara anak dan orang tua, dalam segala hal, termasuk dalam hal hak dan kewajibannya. Orang tua yang permisif, cenderung memberikan kebebasan yang penuh pada anak-anaknya untuk berbuat apa saja tanpa adanya kontrol sama sekali.

 

Kerja sama yang serasi, saling menyenangi dan saling mencintai di antara orang tua dalam hal ini ibu dan bapak sangat dibutuhkan, karena hal tersebut berkaitan dengan rasa aman dan pembentukan disiplin anak secara konsisten (Strrange, 1976). Tetapi kemungkinan ketidak serasian orang tua (ibu dan bapak) dalam melakukan fungsinya dapat saja terjadi, terutama jika mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Hal ini akan menimbulkan suasana tertentu dalam keluarga yang akan mempengaruhi rasa aman  dan disiplin anak (lindgren, 1976, Strange, 1976). Ketidak serasian tersebut, menyangkut perbedaan agama, ideologi, apresiasi terhadap karya seni serta perbedaan pandangan sehubungan dengan masalah pendidikan dan masa depan anak. Perbedaan lain antara ibu dan bapak, yaitu adanya keinginan di antara mereka untuk saling dominan terhadap anak serta berlomba untuk saling dekat dan mendapatkan simpati dari anak. Ketidakserasian ini akan menjadi sumber pertengkaran dalam keluarga yang selanjutnya akan menjadi sumber frustrsi bagi anak.

 

Semua perilaku termasuk perilaku kepemimpinan orang tua baik yang serasi atau tidak serasi, akan dipersepsi oleh para remaja karena mereka telah mempunyai kemampuan untuk menangkap fenomena-fenomena yang ada pada lingkungannya. Untuk itu dalam penelitian ini yang diteliti adalah pola kepemimpinan orang tua atas dasar persepsi anak. Ini dilakukan karena, pola kepemimpinan orang tua yang berpengaruh terhadap perilaku anak, bukanlah pola kepemimpinan  yang ada secara objektif, tetapi yang telah dipersepsi oleh anak.

 

 

 

 

Pola kepemimpinan Orang Tua dan Agresivitas Remaja

 

Kecenderungan pola kepemimpinan orang tua sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, dimungkinkan akan mempunyai korelasi dengan dorongan agresif mereka. Orang tua yang otoriter, dengan kecenderungan suka memaksakan kehendaknya pada anak, tidak mengindahkan hak dan kebutuhan anak, dan suka menghukum anak, diduga akan mempengaruhi perkembangan agresivitas anak. Orang tua yang demokratis, yang selalu memperhatikan anak, dan cenderung memperlakukan anak sama dengan dirinya, dan saling bekerja sama di dalam menghadapi setiap persoalan, diduga akan dapat menurunkan atau meduksi perkembangan agresivitas anak. Orang tua yang permisif, yang tanpa mengontrol sama sekali terhadap tingkah laku anak, akan menyebabkan anak mengalami benturan-benturan dengan lingkungan sosialnya, dan benturan-benturan tersebut akan menimbulkan frustasi, dan frustasi tadi mungkin juga akan menimbulkan perilaku agresif bagi anak. Ketidak serasian antara ibu dan bapak dalam keluarga mungkin akan diwarnai dengan percekcokan dan pertengkaran yang akan menjadi sumber frustrasi dan akan dipersepsi oleh anak sebagai perlaku agresif. Hal tersebut selain akan menimbulkan perasaan tidak aman dan tidak disiplinnya anak juga akan menjadi model bagi anak untuk berperilaku agresif. Atas dasar uraian di atas, dalam penelitian ini dikemukakan hipotesis sebagai berikut : pola kepemimpinan orang tua otoriter berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja, pola kepemimpinan orang tua demokratis berkorelasi negatif dan signifikan dengan agresivitas remaja, pola kepemimpinan orang tua permisif berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja dan ketidak serasian antara bapak dan tibu berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja.

 

 

.

Metode Penelitian

 

Subjek yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah  para remaja yang terdiri dari murid-murid SMTA   sebanyak 181 orang, yang terdiri dari 155 orang laki-laki dan 26 orang wanita dan diambil dari 26 SMTA.Teknik pengambilan sampel dengan cara Muti Stage Cluster Sampling. Dari 26 sekolah yang ada, diambil 4 sekolah sebagai sampel, dan dari tiap-tiap sekolah tersebut diambil sejumlah subjek dari 1 kelas. Penentuan Kelasnya juga diambil secara random.

 

Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dikembangkan dari pola-pola kepemimpinan orang tua, dengan faktor-faktor otoriter, demokratis dan permisif, dan ditambah lagi dengan faktor ketidak serasian orang tua yang dimaksudkan untuk mendapatkan data tambahan. Angket untuk mengungkap agresivitas, dikembangkan dari faktor emosional verbal, fisik sosial, fisik asosial, dan destruktif. Analisis data hasil penelitian, menggunakan analisis product moment.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Penelitian

 

 

 

TABEL: MATRIK INTERKORELASI FAKTOR-FAKTOR POLA KEPEMIMPINAN DENGAN  KETIDAKSERASIAN ORANG TUA

 

 

Y

X

1

2

3

4

5

1

- 0,077

0,101

0,211

0,208

0,151

p > 0,05

p > 0,05

p < 0,01

p < 0,01

p < 0,05

2

- 0,109

- 0,024

- 0,277

- 0,217

- 0,277

p > 0,05

p > 0,05

p < 0,01

p < 0,01

p < 0,01

3

0,116

0,173

0,257

0,243

0,250

p > 0,05

p > 0,05

p < 0,01

p < 0,01

p < 0,01

4

- 0,014

0,080

0,259

0,246

0,234

p > 0,05

p > 0,05

p < 0,01

p < 0,01

p < 0,05

 

Keterangan tabel:

X1          = Kepemimpinan otoriter

X2          = Kepemimpinan demokratis

X3          = Kepemimpinan permisif

X4          = Ketidakserasian antara  ayah dan ibu

Y1           = Agresivitas emosional verbal

Y2           = Agresivitas fisik social

Y3           = Agresivitas fisik asosial

Y4           = Agresivitas destruktif

Y5           = Agresivitas total

 

 

Atas dasar tablel di atas dapat diketahui bahwa semua hipotesis yang diuji dalam penelitian ini terbukti. Pola kepemimpinan otoriter berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja (r = 0, 151, p < 0,01). Pola kepemimpinan orang tua demokratis berkorelasi negative dan signifikan dengan  agresivitas remaja (r =  -0,277, p < 0,01). Pola kepemimpinan orang tua permisif berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja (r = 0,234, p < 0,01). Temuan lain selain yang dihipotesiskan yaitu ketidakserasian orang tua dalam memimpin anak, juga berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja (r = 2,34, p< 0,05). Pola kepemimpinan orang tua otoriter,  permisif dan ketidakserasian orngtua dalam memimpin anak, berkorelasi positif dan signifikan dengan aspek agresivitas asosial dan destrutif; sedangkan pola kepemimpinan orang tua demokratis berkorelasi negatif dan signifikan dengan aspek agresivitas asosial dan destruktif (periksa table). Berdasar tabel di atas, tergambar pula bahwa pola kepemimpinan orang tua otoriter, demokratis, permisif termasuk pula ketidak serasian orang tua dalam memimpin anak, tidak berkorelasi secara signifikan de ngan aspek agresivitas emosional verbal dan agresivitas asosial (periksa tabel).

 

      

Bahasan

 

Pola kepemimpinan orang tua otoriter berkorelasi positif  dan signifikan dengan agresivitas remaja. Pola kepemimpinan orang tua otoriter dengan indikator kecendrungan tidak memberikan kebebasan, memaksakan kehendak,suka menghukum terutama hukuman fisik, kaku, tidak ada perasaan kasih sayang, tidak simpatik terhadap anak,   akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian anak dalam hal ini agresivitasnya (Cole, 1963; Lindgren, 1976; Conger, 1977; Stewart dan Koch, 1983). Perilaku orang tua yang demikian itu  akan dipersepsi dan dihayati anak sebagai perilaku agresif orang tua, yang akan menjadi model dalam proses perkembangan anak sehingga anak akan menjadi agresif pula (bandura, lih. Baron & Byrne, 1991, Baron & Byrne, 2000. Petri, 1996).   Anak tersebut akan mudah marah, menjadi frustrasi, menentang perintah orang tua dan berbagai bentuk perilaku menyimpang, dan selanjutnya anak akan menjadi agresif (Heterington dan Parke, 1983).

 

Pola kepemimpinan orang tua permisif, juga berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas remaja. Kebalikan dari orang tua otoriter, orang tua yang berpola permisif, memberikan kebebasan tanpa adanya kontrol dan sangsi sama sekali terhadap anak, bahkan tidak peduli terhadap masalah yang dihadapi anak. Ini akan berpengaruh negatif terhadap anak, yaitu mereka tidak matang, emosinya tidak setabil, selalu curiga pada orang lain, kurang control diri, tidak mengenal tata tertib, tidak mematuhi aturan, mementingkan diri sendiri, tidak menghargai orang lain, tidak mempunyai rasa simpati pada orang lain, sulit dipimpin dan sulit pula memimpin, dan menjadi agresif (Baumrind, lih. Steward & Koch, 1983; Robinson, 1958; Barnadib, 1986).

 

Berbeda dengan pola kepemimpinan otoriter dan permisif yang berkorelasi positif dan signifikan , pola kepemimpinan demokratis berkorelasi negatif dan signifikan dengan agresivitas remaja. Ini terjadi, karena orang tua demokratis di samping menempatkan anak pada kedudukan yang sama dalam keluarga, memberikan kebebasan untuk mengemukakan ide-ide atau pendapat-pendapatnya, mau mendengar keluhan-keluhannya,  juga memberikan perhatian yang besar pada anak (Martaniah, 1964, Conger, 1977, Spock, 1982, Barnadib, 1986). Suasana keluarga dengan pola kepemimpinan orang tua demokratis akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak (Stewart dan Koch, 1983). Anak yang dibesarkan dalam suasana demokratis, akan memiliki rasa percaya diri yang baik, mandiri, periang, memiliki tanggung jawab sosial yang baik, dan selalu bersahabat (Baumrind, Steward dan Koch, 1983).     

 

 

Faktor ketidakserasian orang tua berkorelasi negative dan siganifikan dengan agresivitas remaja.  Ini berarti bawa ketidak serasian antara ayah dengan ibu dalam keluarga akan berdampak negatif yaitu akan menyebabkan anak menjadi destrutif dan antisosial. Ketidakserasian orang tua (bapak dan ibu) kemungkinan akan menjadi sumber pertengkaran dan permusuhan  yang akan menjadikan lingkungan keluarga  dengan suasana yang akan dilihat dan dipersepsi dan disikapi anak sebagai lingkungan yang penuh dengan sumber frustrasi.  Lingkungan demikian akan mempengaruhi perilaku anak, dalam hal ini perilaku agresif. (Jung, 1978, Baron & Byrne, 1991, Baron & Byrne, 2000, Carver, lih. Geen, 1995). Berbeda apabila orang tua selalu serasi atau harmonis di dalam memimpin anak. Harmonis dimaksud adalah adanya saling pengertian, saling mengisi atau saling melengkapi di antara keduanya. Situasi demikian akan dipersepsi anak sebagai situasi altruistik yang akhirnya akan membentuk pribadi anak menjadi pribadi altruistik pula (Duval & Duval dan Neely, 1979). 

 

 

Pola kepemimpinan dan ketidak serasian orang tua tidak berkorelasi secara signifikan dengan agresivitas emosional verbal. Tidak adanya korelasi secara signifikan antara faktor-faktor pola kepemimpinan orang tua dan ketidakserasian orang tua dalam memimpin anak dengan agresivitas emosional verbal ini, dimungkinkan karena perbedaan sampel antara laki-laki dan wanita yang tidak seimbang, yaitu 155 orang untuk laki-laki, dan 26 orang untuk wanita, atau berbanding antara 87% dengan 13%. Dalam hal ini diduga bahwa laki-laki cenderung memberikan respons yang sifatnya fisik, dan wanita cenderung memberikan respons yang sifatnya emosional dan verbal di dalam menghadapi suatu stimulus atau dalam merefleksikan dorongan agresifnya.

 

Semua aspek dari pola kepemimpinan orang tua dan ketidak serasiannya juga tidak berkorelasi secara signifkan dengan agresivitas pisik social. Tidak adanya korelasi antara pola-pola kepemimpinan dan ketidak serasian orang tua dengan agresivitas fisik sosial dalam penelitian ini, diduga  ada hubungannya dengan masalah remaja Indonesia pada umumnya. Remaja Indonesia pada umumnya saat ini disinyalir mengalami krisis idealisme,  nasionalisme, patriotisme dan krisis moral, yang menunjukan gejala pemberontakan terhadap norma moral yang ada. Akibatnya dorongan agresifnya tidak terefleksikan dalam bentuk perilaku positif seperti membela kebenaran, mencegah kemungkaran, dorongan untuk membela negara dan sebagainya yang merupakan indikator dari agresivitas sosial tidak muncul dan sebaliknya, yang muncul adalah tingkah laku yang cenderung berkonotasi dengan tindakan anti sosial dan destruktif.  Remaja yang dijadikan responden dalam penelitian ini, merupakan bagian dari para remaja Indonesia pada umumnya.

 

 

Simpulan

 

Agresivitas sebagai aspek dari kepribadian banyak dipengaruhi oleh factor lingkungan baik dalam hal kemunculan dan perkembangannya; di samping factor bawaan. Keluarga khususnya orang tua, merupakan salahsatu dari aspek factor lingkungan tadi. Pola orang tua dalam mengasuh dan memimpin anak sangat berpengaruh terhadap agresivitas anak dalam hal ini remaja. Pola kepemimpinan otoriter dan permisif berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas anak. Ketidak serasian orang tua dalam memimpin anak juga berkorelasi positif dan signifikan dengan agresivitas anak. Artinya, semakin otoriter dan permisif orang tua serta semakin tidak serasi antara bapak dengan ibu, akan diikuti dengan semakin tingginya potensi agresivitas anak. Sebaliknya, pola kepempinan orang tua demoktaris berkorelasi negatif dan signifikan dengan agresivitas anak. Orang tua yang memimpin anak dengan pola pendekatan demokratis akan diikuti dengan rendahnya agresivitas anak.

 

Dari hasil penelitian ini yang perlu dicermati adalah, kenapa pola kepemimpinan orang tua baik otoriter, permisif dan demokratis serta ketidak serasiannya hanya berkorelasi secara signifikan dengan agresivitas fisik antisocial dan destruktif saja. Pola kepemimpinan dan ketidakserasiannya tidak berkaitan secara berarti dengaan agresivitas fisik sosial, dengan indikator berjuang membela negara, membela hak, membela kebenaran dan perilaku-perilaku  positif lainnya. Apakah hal tersebut sebagaimana yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, bahwa rendahnya potensi agresif fisik sosial berkaitan dengan kondisi remaja Indonesia pada umumnya yang disinyalir mengalami krisis idealisme, nasionalisme dan krisis-krisis yang lain. Atau aspek agresivitas fisik sosial memang merupakan aspek yang sangat berbeda bahkan berlawanan dengan agresivitas fisik antisocial dan destruktif yang membutuhkan klasifikasi dan kajian yang berbeda dalam suatu aktivitas penelitian

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abt,   L.E. and Bellak, L., 1950, Projective Psychology.

           Grove Press Inc., New York,  London

 

Anastasi,     A. ,  1976.  Psychological Testing, Fourth

           Edition, Macmillan Publishing Co., Inc., New York

 

Baron, D; A. and Byrne, D; 1991. Social Psychology, Understanding Human

            Interaction, 6th, Allyn and Bacon, Boston,

 

————–; 2000. social Psychology, Tenth Edition, Allyn and Bacon, Boston.

Bernadib, S. I.,  1986.  Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis.

          Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP),  Yogyakarta.

 

Berkowitz, L., Cochran, Suzan, T.,  and Embree, M.,  1981

          Physical Pain and Goal of Aversely Stimulated Aggression,

          Journal Of Personality and Social Psychology, Vol. 40 No. 4, 697

 

Brown,  F. J., 1961.  Educational Psychology, 2nd.   

              Prentice Hall Inc.,  Englewood, New Jersey.

 

Cole,  L.,  1963.  Psychology of Adolescence.  Holt. Rinehart

          & Winston,  New York.

 

Conger,  J.J.,  1977.  Adolescence and Youth Psychological

          Development in Changing World.  Harper and Row Publisher,  New York.      

 

Duval, S; Duval, V.H; & Neely, R. 1979). Self-fokcus, felt responsibility and helping behavior, Journal of Personality and Social Psychology, 37, 1769-1778.

 

Evitasanti, D; Djalali, M.A. dan Matuleesy, A; 2000. Hubungan antara Prasangka Sosial dengan Agresivitas, Jurnal Psilologi Fenomena, Suarabaya., 37, 1769-1778.

 

Feist, J; and Feist, G; J; 2002. Theories of Personality, 5th Edition, McGraw Hill, Boston.

 

 

Hubbard, J.A;  Dodge, K.A; Cillesson, A.H. and Coie, J.D; 2001. The Dyadic Nature of Social Information Processing in Boys’ Reactive and Proactive Aggression, Journal of  Personality and Social Psychology, Vol. 80, No. 2, p. 269 – 280.

 

Hall,  C;  S.,  and Lindzey, G;  1981.  Theories of

         Personality, 3th.  ed.  John Wiley & Sons, New York.

 

Hall, W,  M. and C; 1984.  Aggressive

          Behavior in Children:  An Outcome of modeling or social

          Receprocity.  Journal Psychology, Vol.  11, No. 5,  739

 

Hurlock,  E.B.,  1976.  Child Development. 6th ed.  McGraw Hill

         Kogakusha, Ltd.

 

Havighurts, R.J.,  1953.  Human Development and Education

          Longman,  Green& Co.,  New York.

 

 

Jersild,  A.T.,  Brook, J.S., and David, W., 1978.  The Psychology of

          Adolescence.  3th ed.  Macmillan Publishing Co.,Inc New York.

 

Johnson,  R.C., and Medinnus, G.R., 1974.  Child Psychology Behavior

          And Development.  John Wiley & Sons,  New York.

 

Jung, J., 1978.  Understanding Human Motivation.  Macmillan

          Publishing Co.,  Inc.,  New York.

.

Kusumah,  M.W., 1985.  Kenakalan Remaja dalam Perspektif Kriminologi

          Prisma, No.  9,  LP3ES,  61.

 

Lindgren,  C.H.,  1973.  An Introduction to Social Psychology, 2nd ed. Wiley

.

Lerner,  R.M.,  Spanier,  G.B., 1980.  Adolesscent Development.

          McGraw-Hill Book Company,  New York.

 

Martaniah,  S.M.,  1964.  Peranan Orang Tua Dalam Perkembangan

          Kepribadian,  Djiwa Baru  11/12,  Th.  XII

 

—–,   1973.  Penyelidikan Mengenai Kebutuhan-kebutuhan Psikologik

          Remaja di  DIY.  PPPT-UGM, Yogyakarta.

 

—–,   1982.  Motif Sosial Remaja SMA Jawa dan Keturunan Cina,  Suatu

         Stusi Perbandingan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Petri, H.L. 1996. Motivation, Theory, Research, and Applications, Fourth Edition, Brooks/Cole Publishing Company, Boston.

 

Pikunas,  J.,  1976.  Human Development An Emergent Science. 3rd ed.

 

Ross,  A.O.,  1974.  Psychological Disorders of Children.  International

         Student Edition,  McGraw-Hill Kogakusha, Ltd., Tokyo.

 

Ross,  D., and Parke,  1977.  Contemporary Reading in Child Psychology.

         McGraw-Hill Book Company,  New York.

 

Sarwono,  S.W.,  1985.  Pandangan Sosial Politik Remaja Prisma,  No.  9

         LP3ES,  Jakarta.

 

Smith,  C.H.,  1968.  Personality Development.  McGraw-Hill Book

         Company,  New York.

 

Spencer,  T.D., and Kass,  N.,  1977.   Perspective in Child Psychology.

         McGraw-Hill Book Company,  New York.

 

Stewart,  A.C., dan Koch, J.B., 1983.  Children Development Trough

          Adolescence.  John Wiley & Sons,  Canada.

 

Sukadji,  S.,  1982.  TAT dan Penggunaannya.  Universitas Gadjah Mada

         Yogyakarta.

 

Suryabrata, S.,  1985.  Psikologi Kepribadian.  Cetakan Kedua,

         Rajawali,  Yogyakarta.

 

Young,  K.,  1956.  Social Psychology.  Appleton Century Croffts, Inc. New York

.

Juli 12, 2009 Posted by | Psikologi Kepribadian | Tinggalkan komentar

KEPRIBADIAN SEBAGAI MODAL DASAR UNTUK TERCAPAINYA KUALITAS KINERJA PARA TENAGA KEPENDIDIKAN

oleh

 M. As’ad Djalali

(Suntingan dari Pidato Pengukuhan Guru Besar tgl. 15 Juli 2006)

Pendahuluan

 

Sejak lama berbagai pihak terutama yang memiliki kepedulian terhadap masalah pendidikan dilanda kegalauan terhadap kinerja para pendidik dalam kaitannya dengan kualitas pendidikan di Negara ini. Disahkannya Undang-Undang tentang Guru dan Dosen oleh DPR tahun 2005 yang lalu merupakan salahsatu refleksi dari sekian upaya untuk mengatasi kegalauan tersebut; di mana sudah merupakan stereotype dari pola pikir (mind set) kita, apabila berbicara tentang rendahnya kualitas pendidikan, muaranya adalah para pendidiknya yang dijadikan sebagai kambing hitam. Kualitas kinerja dari para pendidik lantas dipertanyakan. Rupanya dalam pandangan masyarakat, antara kualitas pendidikan dan para pendidiknya merupakan dua sisi mata uang yang tidak mudah dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

 

Berbicara mengenai tenaga kependidikan, di negara kita dikenal dengan dua macam sebutan yaitu guru untuk tenaga profesional mulai dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama dan sekolah lanjutan atas; serta sebutan dosen untuk tenaga profesional di tingkat perguruan tinggi (lih. U.U. Guru dan Dosen Th. 2005, Bab II, Pasal 2 dan 3). Guru dan dosen  sebagai tenaga profesional, berfungsi sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional (U.U. Guru dan Dosen, Th. 2005 Bab II, Pasal 4 dan 5).  Dalam orasi ilmiah ini, saya lebih cenderung menggunakan istilah tenaga kependidikan atau pendidik bila akan menyebut guru sekaligus dosen.

 

Sebetulnya kegalauan terhadap kualitas tenaga kependidikan dalam kaitannya dengan mutu pendidikan, bukan hanya terjadi di negara kita yang  kondisinya memang begitu memprihatinkan; tetapi juga di Amerika serikat yang sudah begitu maju, dan telah menjadi kiblat dari banyak negara di dunia dalam banyak hal, termasuk dalam masalah pendidikan. Akhir-akhir ini, di sana banyak dilakukan diskursus-diskursus tentang bagaimana cara-cara meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam diskursus-diskursus tersebut hampir secara bulat mensepakati bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dibutuhkan tenaga pendidik  dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan yang ada saat ini (Hess, 2004).

 

Kenapa ? Karena tenaga yang ada,  disinyalir tidak berimbang dengan kemajuan dan perkembangan zaman; dalam kata lain tidak cukup representatif untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada dalam  abad ini (Hess, 2004) Penurunan kualitas tenaga kependidikan dilihat dari tingkat pendidikannya,  terus berlangsung dari tahun ke tahun, di mana hal ini sudah dianggap membahayakan.  Tahun 1982 sekitar 17% guru bergelar master dan tahun 2000 turun pada angka 5% nya saja.  Ini terjadi karena orang-orang yang potensial atau orang yang berkualitas tidak berminat terhadap profesi guru. Belum lagi kalau dilihat dari segi raw input nya. Calon mahasiswa yang masuk perguruan tinggi kependidikan, adalah mereka yang skor aptitude test (SAT) nya paling rendah dibandingkan dengan calon mahasiswa dari bidang lain. Jadi, yang memilih profesi sebagai pendidik, adalah tenaga yang berkualitas paling rendah. Akhirnya, berdasar pada kondisi yang demikian ini,  maka ujian sertifikasi profesi (professional licensing exam) juga diberikan dengan soal yang sederhana serta standar yang rendah pula. Dengan demikian dapat disimpulkan tenaga kependidikan yang ada, adalah SDM dengan kualitas the weakest of the weak atau yang paling lemah di antara yang lemah, dengan kata lain yang paling jelek di antara yang jelek ((Hess, 2004).

 

Itu di Amerika Serikat, yang selama ini dijadikan kiblat dunia dalam banyak hal termasuk kemajuannya dalam bidang pendidikan. Dapat dibayangkan bagaimana kondisi di Indonesia.  Sebagaimana yang telah banyak dilansir oleh berbagai media tentang kualitas pendidikan di negara kita  yang berada dalam urutan ke 112 dari 162 negara; sedangkan tetangga kita Malaysia saja berada pada urutan ke 50 dan Vietnam  ada pada urutan ke 111 merupakan salahsatu indikatornya (Djalali, 2001, Sondakh, 2006).

 

Di muka telah disinggung kalau berbicara tentang rendahnya mutu pendidikan, maka yang dipersalahkan adalah pendidiknya. Kualitas tenaga kependidikan (dalam hal ini guru) lalu dipertanyakan. Memang, hal tersebut tidak semuanya salah sekalipun  tidak semuanya benar. Kualitas guru yang ada memang meprihatinkan. Ada dua indikator yang menunjuk pada sinyalemen tersebut. Pertama, data dari Depdiknas guru SD se-Indonesia yang berjumlah 1.141.168 orang ternyata baru 38% atau 442.310 yang diangap layak mengajar. Sisanya dianggap tidak layak mengajar, karena ijazah yang dimiliki masih di bawah jenjang D-2 (Deploma-2). Jadi ada 62% yang tidak layak mengajar. Kedua, hasil uji coba yang dilakukan Kanwil Diknas DKI tentang pemahaman ilmu dan kurikulum kepada 3000 orang guru dari berbagai disiplin ilmu, ditemukan bahwa 90% lebih dari mereka tidak paham akan apa yang mereka ajarkan. Sebanyak 421 guru fisika, yang diberi soal fisika, lebih dari 90% memperoleh nilai di bawah 5 (lima). Kemudian dari 411 guru kimia, sebesar 80% dari mereka yang mendapatkan nilai di bawah 4 (empat). Selanjutnya sekitar 1000 orang guru biologi dan matematika yang juga dites, menunjukkan perolehan nilai yang relatif sama. Yang sangat memprihatinkan lagi adalah, soal ujian yang diberikan yaitu soal EBTANAS yang biasa diberikan pada anak-anak SMU setiap tahun. Bukan soal-soal ujian untuk tingkat sarjana atau magister. Tragisnya, nilai yang mereka dapat, kalah jauh dibandingkan dengan nilai dari siswa yang mereka ajar (Suyanto, 2006). Mereka kalah pintar dari muridnya, kalau tidak boleh saya mengatakan mereka lebih bodoh dari muridnya. Memang, memprihatinkan sekali.

 

Di muka telah disinggung, kalau ada 62% guru SD yang tidak layak mengajar karenan ijazah yang dimiliki setaraf D-1 (deploma-1) ke bawah (minimal SPG dan sederajat). Tentu tidak akan ditemukan lulusan SD yang menjadi guru SD. Bagaimana kondisi tenaga kependidikan di Perguruan Tinggi yang biasa dipanggil dengan sebutan dosen. Rupanya masih dianggap wajar kalau dosen lulusan S-1 mengajar S-1, S-2 mengajar S-2, bahkan ada lulusan S-1 dan S-2 yang mengajar S-3. Pada hal dalam U.U. Guru dan Dosen tahun 2005, Bab III, Pasal 46 ayat 2, ditegaskan bahwa seorang dosen harus memiliki kualifikasi akademik minimal lulusan program Magister    (S-2) untuk program deploma dan program sarjana S-1); serta lulusan program doktor (S-3) untuk program sarjana dan pasca sarjana (S-1&S-2).    

 

Tentang kemampuan akademik dosen, rupanya masih belum ada upaya penelitian sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kanwil Diknas DKI terhadap  guru. Bagaimana kalau dosen juga dites dengan materi tes yang biasa mereka berikan pada masiswanya. Atau sekalian dites bersama-sama para guru mengerjakan soal-soal EBTANAS untuk murid SMU sebagaimana yang telah dilakukan di DKI tadi. Ini mungkin ada baiknya untuk dicoba. Nanti, akan tambah sempurnalah  keprihatinan kita, apabila ditemukan banyak dosen yang tidak lebih pintar dari murid-murid SMU.

 

Semua pihak, baik pemerintah, para orang tua dan mayarakat tentu sangat berkepentingan terhadap kinerja yang optimal dari para  tenaga kependidikan tersebut, untuk mendapatkan out put yang optimal pula yaitu produk lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang berbobot serta karya ilmiah dan teknologi yang berkualitas untuk didarma baktikan demi kehidupan dan pembangunan bangsa. Kenerja yang optimal sebagaimana yang diharapkan, akan dapat tercapai  apabila para tenaga guru ataupun dosen dimaksud, memiliki motivasi kerja yang memadai.

 

Motivasi dalam hal ini motivasi kerja sebagai salahsatu aspek kepribadiaan, merupakan faktor vital yang sangat mempengaruhi efektivitas proses belajar mengajar serta dalam rangka pengembangan institusi pendidikan. Motivasi kerja dimaksud di atas adalah dorongan untuk berpartisipasi, dalam arti melakukan tugasnya  secara sungguh-sungguh dalam proses pendidikan (Ofoegbu, 2004).  Dalam rangka mencapai hal tersebut ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan. Pertama,   aspek kepribadian yang  akan berfungsi sebagai frame of reference (kerangka acuan) dan kedua adalah primary incentive (insentif primer) seperti gaji dan berbagai macam fasilitas sebagai kompensasi di mana kedua hal tersebut akan menentukan motivasi (intensitas, arah dan pola perilaku), yang akhirnya akan menentukan kualitas kinerja yang bersangkutan (Newman, 1963). Jelasnya, kualitas kinerja tergantung pada tinggi rendahnya motivasi, dan motivasi itu sendiri dipengaruhi oleh faktor internal yaitu kepribadian sebagai kerangka acuan dan berbagai macam variable lain dari faktor eksternal   yang termasuk dalam katagori insentif primer.

 

Insentif primer yang dapat mempengaruhi motivasi kerja menurut Newman (1963) antara lain ialah higher financial income, social status and respect, security, attractive work dan opportunity for development. Undang-Undang Guru dan Dosen tahun 2005 khususnya pasal 14 tentang guru dan pasal 51 tentang dosen mengenai hak dan kewajiban guru dan dosen merupakan insentif primer sebagaimana dimaksud. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa guru dan dosen berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan  prestasi kerjanya, memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, mendapatkan akses pada sumber belajar, akses informasi, sarana dan prasarana pembelajaran, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak kekayaan intelektual, memperoleh kebebasan dalam memberikan penilaian dan kelulusan peserta didik, memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melakukan tugas dan seterusnya.

 

Pertanyaannya adalah: apakah dengan insentif primer sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen seperti yang telah dikemukakan di atas, akan berpengaruh pada peningkatan kinerja tenaga kependidikan sehingga mutu pendidikan kita dapat terangkat ?

 

Harapannya tentu demikian. Itu merupakan harapan dan perkiraan banyak orang, khususnya yang berkaitan dengan higher financial income. Awalnya para penilik sekolah, para dosen di lembaga pendidikan guru (semacam IKIP), asosiasi profesi guru dan asosiasi profesional lain (di Amerika Serikat), memiliki kesimpulan yang sama, bahwa merupakan tuntutan yang krusial untuk memberikan gaji kepada para tenaga guru yang lebih besar, dibandingkan dengan yang mereka terima saat ini (Hess, 2004). Ini muncul karena ada dugaan gaji mereka masih relatif kecil.

 

Pertanyaan kemudian muncul apa betul gaji para guru masih kecil ? Kenyataannya tidak demikian. Berdasar data dari Bureau of Labor Statistics National Compensation Survey tahun 2001, gaji guru rata-rata 43.000 U.S.$/tahun; sedangkan gaji arsitek, ahli teknik sipil, biolog, apoteker, ahli statistik dan tenaga professional yang lain menerima gaji rata-rata 40.000 U.S.$/tahun. Kalau dikurskan ke rupiah kira-kira 430.000.000. untuk gaji guru dibandingkan dengan 400.000.000. untuk gaji professional lain.  Kalau dihitung perjam, para guru rata-rata mendapatkan bayaran 30 U.S.$/jam; sedangkan para tenaga profesional yang lain mendapatkan bayaran 27 U.S.$/jam. Gaji guru 10% lebih besar dibandingkan dengan gaji para profesional yang lain (Richard Vedder, lih. Hess, 2004). Tapi kualitas kerja mereka masih memprihatinkan. Sekali lagi itu gaji guru di Amerika Serikat. Bagaimana di Indonesia ?

 

Selama ini, saya masih belum menemukan data statistik mengenai berapa rerata gaji para tenaga kependidikan di Indonesia dan bagaimana posisinya kalau dibandingkan dengan rerata gaji para profesional yang lain. Tapi kira-kira  nasib dan posisinya tidak akan  sebaik seperti rekan-rekan mereka di di Amerika Serikat, mungkin saja ada pada posisi  yang paling rendah. Sebuah informasi yang saya dapat baru-baru ini, gaji seorang Guru Besar (PNS) paling senior sekitar Rp. 2.900.000,- (misalnya dibulatkan saja menajadi Rp. 3.000.000,-) per bulan; jadi pertahun mereka mendapatkan gaji Rp. 36. 000.000,-. Bandingkan dengan gaji  hakim setiap bulan yakni: Rp. 15.000.000,-  untuk hakim di pengadilan negeri, Rp. 25. 000.000,- untuk hakim di pengadilan tinggi,- dan Rp. 30.000.000,- untuk hakim agung di Mahkamah Agung. Itu saja masih dianggap rendah, yang memunculkan tengara para hakim memiliki sikap permisif terhadap pemberian atau hadiah yang dapat menyuburkan kultur korupsi seperti jual beli putusan pengadilan di lembaga tersebut (Kompas, 3-7-2006). Tentunya tidak semua hakim melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti itu, dan masih banyak hakim yang baik. Bandingkan pula dengan rerata gaji guru (bukan Guru Besar) di Amerika serikat yang besarnya sekitar Rp. 430.000.000,- setiap tahun yang dengan gaji sebesar itu sebagaimana yang telah dikemukakan dalam pembicaraan di depan, kinerja mereka masih membuat galau banyak pihak.

 

Pantas saja muncul fenomena tidak sedikit guru dan dosen yang bekerja sambilan di luar profesinya. Misalnya guru yang nyambi sebagai tukang ojek. Atau aktivitas yang masih berkaitan dengan profesinya, tetapi yang bersifat pelecehan terhadap profesinya tadi. Misalnya adanya tengara praktek perjokian dalam rangka UNAS, atau dosen yang melakukan pelacuran akademik yaitu jual beli nilai dengan mahasiswanya serta berbisnis Tugas Akhir, Skripsi, Tesis bahkan Disertasi bagi yang membutuhkan. Tentunya tidak semua guru dan dosen memiliki moral serendah itu. Masih banyak  di antara mereka yang dengan segala keter-batasannya, tetap memiliki idealisme dalam melakukan tugas profesinya.

 

Memang, gaji besar tidak lantas serta-merta secara signifikan berpengaruh terhadap tingginya kualitas kinerja, karena dalam teori motivasi faktor gaji hanyalah sebagai faktor  hygiene, bukan faktor motivasional. Faktor hygiene tadi sekalipun bukan faktor yang dapat meningkatkan motivasi, tetapi tidak berarti tidak penting. Karena, apabila tidak didapat secara optimal, motivasi  akan menurun yang akan berkelanjutan pada menurunnya kualitas kinerja. Apabila didapat secara optimal, maka motivasi akan ada pada kondisi yang persisten, sekalipun tidak meningkat. Faktor hygiene ini berperan untuk memelihara motivasi yang ada. Setidaknya dengan gaji yang cukup, para guru pikirannya tidak akan terpecah dengan aktivitas-aktivitas lain, dan akan lebih terkonsentrasi pada tugas-tugasnya sebagai pendidik. Mungkin tidak perlu lagi guru bekerja sambilan sebagai tukang ojek, atau praktek perjokian dan dosen tidak melakukan pelacuran akademik lagi, dengan alasan untuk mecukupi kebutuhan hidupnya secara finansial.

 

Faktor motivasional dari insentif primer yang tersirat dalam U.U. Guru dan Dosen tahun 2005,  antara lain adalah kesempatan untuk berkembang, misalnya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan meningkatkan kompetensi, mendapatkan pengalaman dan kesempatan  baru, mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan prestasi kerjanya, serta mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Ini akan meningkatkan motivasi, karena hal tersebut akan berpengaruh positif terhadap peningkatan profesionalisme dan pengembangan karier yang bersangkutan. Institusi juga akan diuntungkan dengan mendapatkan tenaga yang lebih kapabel. Tenaga yang kapabel, akan memberikan kontribusi yang lebih baik demi terlaksananya program-program pendidikan dan pengembangan institusi pendidikan itu sendiri, yang kemudian masyarakat juga yang akan diuntungkan (Luce, 1988).  Adanya perhatian yang lebih besar terhadap kondisi para pendidik sebagaimana tertuang dalam U.U. Guru dan Dosen tahun 2005, yang secara psikologis menyangkut faktor hygiene dan faktor motivasional, adalah merupakan insentif primer yang dapat meningkatkan kinerja para tenaga kependidikan.

 

Berbicara tentang kualitas kinerja, sangat tergantung pada motivasi yang bersangkutan di dalam mengemban tugas-tugasnya. Motivasi itu sendiri sebagai salah satu aspek kepribadian, sangat ditentukan oleh aspek kepribadian yang lain seperti Inteligensi, Bakat, Minat Jabatan dan Kemampuan Akademik dari yang bersangkutan. Aspek kepribadian tersebut akan menjadi frame of reference atau kerangka acuan untuk merespon segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas kewajibannya. Dalam bahasa sederhana, pengararuh insentif primer yang diberikan terhadap kinerja para dosen, tergantung pada bagaimana yang bersangkutan menyikapi insentif itu tadi.

 

Kualitas kinerja para tenaga kependidikan sangat tergantung pada motivasi; sedangkan motivasi itu sendiri dipengaruhi oleh faktor inteligensi, bakat, minat jabatan dan prestasi akademik yang telah dicapai selama menempuh pendidikan sebelumnya, di samping faktor insentif primer tadi. Penekanan orasi ilmiah  sehubungan dengan kinerja tenaga kependidikan di sini, difokuskan pada beberapa aspek kepribadian sebagaimana yang telah dikemukakan di muka, yaitu: motivasi, minat jabatan, inteligensi, bakat, dan prestasi akademik.

 

Motivasi Kerja Para Tenaga Kependidikan 

 

Motivasi adalah faktor yang paling dasar yang mempengaruhi kinerja (performance) seseorang. Semua pihak yang berkepentingan dengan dunia pendidikan tentunya berkepentingan pula dengan motivasi para pendidik yang terfokus pada tugasnya secara persisten (Luce, 1988). Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan,  efektivitas proses belajar mengajar sangat tergantung pada motivasi kerja para tenaga pengajarnya. (Steer dan Porter, 1979 dan Ofoegbu, 2004). Ada dua macam motivasi kerja yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik (Hunt, lih. Petri, 1996). Pekerjaan bagi orang yang bekerja atas dasar motivasi ekstrinsik, hanyalah sebagai objek substitusi atau sebagai tujuan instrumental untuk mencapai tujuan yang dicari yaitu insentif eksternal.

 

Sebaliknya bagi orang yang melakukan tugas dengan didasari motivasi intrinsik, pekerjaan merupakan tujuan yang sifatnya substansial; karena kepuasan yang didapat inheren dalam aktivitas itu sendiri, tidak bayak tergantung pada faktor insentif eksternal seperti gaji, honorarium, penghargaan, promosi atau insentif lain sebagai kompensasi yang ada dibalik aktivitas tadi (Davis dan Newstrom, 1989).

 

Tetapi sekalipun demikian, dalam banyak kasus sulit dipisahkan antara peranan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik dalam konstelasi perilaku. Seseorang melakukan pekerjaan mungkin karena menyenangi aktivitas-aktivitas yang dilakukan, karena akativitas tersebut sesuai dengan arah minat dan kompetensinya, atau mungkin karena mengharapkan insentif seperti upah yang ada dibalik aktivitasnya tadi.  Atau mungkin aktivitas tadi dilakukan karena alas an keduanya, karena sesuai dengan minatnya, sesuai dengan kopetensinya sekaligus mengharapkan insentif sebagai kompensasinya. Masing-masing individu yang berbeda dapat melakukan dan menampilkan motivasi dan kinerja yang sama, dengan dasar atau alasan yang berbeda (Tice, 1991). Sekalipun demikian, dalam orasi saya ini motivasi dimaksud ditekankan pada motivasi intrinsik.  

 

Ada empat aspek motivasi guru dan dosen dalam melakukan tugasnya. Pertama, adanya respon otonom dari yang bersangkutan dalam mengantisipasi tugas-tugasnya, dalam rangka berpartisipasi dalam aktivitas proses belajar mengajar (Winter, 1973; Ofoegbu, 2004). Dalam hal ini yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas-tugasnya dilakukan secara tulus. Ini terjadi karena yang bersangkutan mencintai profesinya sebagai pendidik (Czubaj, 2002). Kedua, adanya dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap kemampuannya. Ketiga, adanya dorongan yang berorientasi pada pelaksanaan tugas secara sempurna, khususnya tugas yang berkaitan dengan kepentingan anak didik. Keempat, adanya dorongan untuk melakukan tugas yang didasarkan pada tanggung jawab moral dan tanggung jawab sosial (Ames dan ames, 1984).

 

Guru atau dosen yang memiliki motivasi intrinsik tinggi, dapat dilihat dari cara mereka dalam mengantisipasi tugas pelaksanaan pendidikan dan pengajaran secara otonom yang didasari oleh dorongan untuk selalu meunjukkan kinerja dengan kualitas dan intensitas tinggi, dorongan untuk selalu melakukan tugasnya secara optimal, dengan dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan moral dan sosial, dan tidak banyak mempermasalahkan berapa jumlah insentif finansial yang harus mereka terima.

 

Minat Jabatan

 

Sebagaimana yang telah disinggung dalam pembicaraan sebelumnya,  kepribadian sebagai faktor internal di samping faktor primary incentive yang erat kaitannya dengan motivasi dosen adalah minat jabatan, inteligensi, bakat dan prestasi akademik.

 

Minat merupakan salahsatu faktor yang mempengaruhi motivasi, karena minat itu sendiri merupakan suatu gambaran kognitif dari kebutuhan yang berfungsi mengarahkan tingkahlaku (Rokeach, 1973). Minat seseorang terhadap suatu kegiatan akan mempengaruhi cita-cita dan sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan dimaksud, yang akhirnya akan mempengaruhi motivasinya untuk melakukan kegiatan tadi (Guilford, lih. Djalali, 2001; Elliott dan dweck, 1998). Minat jabatan adalah perhatian yang sungguh-sungguh terhadap aktivitas-aktivitas yang memiliki karakteristik yang sama dengan jabatan atau pekerjaan tertentu (Jones, 1963). Ada 10 macam minat jabatan yaitu: out door, mechanical, computational, scientific, persuasive, artistic, literary, musical, social service dan clerical (Kuder, 1984).

 

Minat jabatan yang memiliki karakteristik yang sama dengan aktivitas pendidik dalam hal ini aktivitas dalam kaitannya dengan peklaksanaan transfer of learning atau melakukan transformasi ilmu dan teknologi kepada anak didiknya, pengembangan keilmuan dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, adalah minat keilmuan (scientific), minat hubungan interpersonal (persuasive), minat layanan social (social service), dan minat baca tulis atau literary (Kuder, 1984). Individu yang memiliki minat terhadap aktivitas-aktivitas seperti di atas, akan memiliki cita-cita untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan arah minatnya dan akan mempunyai sikap penerimaan yang tinggi terhadap tugas yang dimaksud tadi.

 

Individu yang memiliki minat yang tinggi pada masalah-masalah keilmuan, hubungan interpersonal, layanan sosial dan baca-tulis, diperkirakan akan memiliki motivasi yang tinggi pula dalam melakukan tugas pendidikan dan  pengajaran, dalam rangka mengadakan transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kenapa ? Karena tugas-tugas tersebut akan sesuai dengan cita-citanya dan yang bersangkutan akan memiliki sikap penerimaan yang penuh terhadap tugas-tugas yang diembannya (Guilford, lih. Djalali, 2001; Elliott dan Dweck, 1988) Ini juga dibuktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara beberapa minat jabatan di atas dengan motivasi kerja dosen (lih. Djalali, 2001).

 

Inteligensi

 

Inteligensi merupakan kapasitas seseorang dalam menyesuaikan diri dan mengantisipasi masalah-masalah dan tugas-tugas yang dihadapinya (McMahon dan McMahon, 1986). Inteligensi sangat berperan dalam perkembangan motivasi kerja (weiner, 1972) dan motivasi itu sendiri  berada di antara inteligensi sebagai potensi yang mendasari kemampuan untuk bertingkahlaku dengan tingkahlaku itu sendiri (Maier, 1970). Inteligensi, merupakan  potensi  yang akan mengantarkan indvidu untuk menjadi tenaga yang memiliki kompetensi untuk menghadapi tugas-tugasnya. Oleh karena itu tinggi rendahnya inteligensi akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya perasaan mampu atau rasa memiliki kompetensi bagi seseorang, dan rasa mampu ini menurut Deci (Deci dkk, 1975; Petri, 1996), akan mempengaruhi perkembangan motivasi intrinsik yang bersangkutan. Rasa mampu ini mempunyai pengaruh yang kuat dalam menumbuhkan intensistas dan memelihara persistensi motivasi  seseorang  (Phillips dan Lord, 1980).

 

Suatu hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan antara inteligensi dengan motivasi kerja yaitu r 0,434 dan p< 0,01 (Djalali, 2001). Ini terjadi karena erat kaitannya dengan inteligensi sebagai kapasitas untuk dapat menyesuaikan diri atau kapasitas untuk mengantisipasi masalah-masalah serta tugas-tugas yang dihadapi dalam hidupnya (McMahon dan McMahon, 1986). Dalam hubungannya dengan tenaga kependidikan, semakin tinggi inteligensi seorang pendidik, akan diikuti dengan semakin  tingginya kemampuan yang bersangkutan dalam mengantisipasi tugas-tugas yang menjadi kewajibannya. Guru ataupun dosen yang memiliki inteligensi tinggi akan memiliki kemampuan untuk terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang dengan pesat seperti yang terjadi saat ini. Sehingga mereka tidak ketinggalan informasi pengetahuan di bandingkan dengan anak didiknya.  Semakin tinggi kemampuan seorang guru atau dosen dalam mengantisipasi tugas-tugasnya akan diikuti semakin tinggi pula  kompetensinya. Apabila para pendidik memiliki kompetensi tinggi dalam melakukan tugas kewajibannya, maka tidak akan terjadi kasus perolehan hasil tes yang lebih rendah di bandingkan dengan hasil yang dicapai oleh murid yang mereka ajar. Semakin tinggi  kompetensi seorang pendidik tentu akan diikuti dengan semakin tingginya motivasi yang bersangkutan dalam melakukan tugas-tugasnya. 

 

Bakat

 

Bakat adalah salahsatu potensi yang menunjukkan kapasitas atau kesanggupan seseorang dalam belajar keterampilan dalam bidang tertentu  (Super & Crites, 1962). Aspek bakat ada berbagai macam, tapi yang diperkirakan relevan dengan tugas tenaga kependidikan sebagai agen pembelajaran, melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat dalam rangka pengembangan dan trasformasi keilmuan, adalah pemahaman verbal, penalaran abstrak dan bakat ekspresi.

 

Bakat pemahaman verbal adalah potensi untuk membaca dan memahami informasi-informasi yang bersifat verbal serta potensi untuk mengambil keputusan praktis dengan alasan-alasan logis, memahami informasi-informasi, berdasarkan pada informasi-informasi yang diterima. Bakat penalaran abstrak adalah potensi untuk menerima inforasi-informasi yang sifatnya non verbal (abstrak) yang diterima. Bakat ekspresi adalah potensi untuk mengungkapkan perasaan dan mengkomunikasikan pikiran dengan  bahasa, baik melalui tulisan atau secara lisan (Bennett dkk, 1952; Flanagan, 1953; anastasi, 1976; Anastasi, 1990). Bakat memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap motivasi (Terborg dkk, 1980). Kuatnya pengaruh bakat terhadap motivasi mungkin ada hubungannya dengan rasa mampu seperti yang dikemukakan oleh Deci (Deci dkk, 1975; Petri, 1996; Pilips dan Lord, 1980). 

 

Hubungan antara bakat dengan motivasi, sama halnya dengan hubungan antara inteligensi dengan motivasi, yaitu berkaitan dengan  kompetensi dari yang bersangkutan. Semakin tinggi bakat pemahaman verbal, bakat penalaran abstrak dan bakat ekspresi  seorang guru atau dosen, akan diikuti dengan semakin tingginya pula potensi yang bersangkutan untuk memiliki ketrampilan sehubungan dengan tugas-tugas mereka. Semakin tinggi potensi seorang guru dan dosen untuk memiliki keterampilan didalam melakukan tugas-tugasnya, akan diikuti dengan semakin tinggi pula  kompetensinya untuk melakukan tugas-tugasnya tadi. Semakin tinggi  kompetensi seorang guru dan dosen dalam melakukan tugasnya, akan diikuti dengan semakin tingginya pula motivasi mereka dalam melakukan tugas sebagai pendidik. Pengaruh bakat terhadap motivasi kerja dalam dunia pendidikan dibuktikan dengan hasil suatu penelitian yaitu  r 0,530 dengan p< 0,01(Djalali, 2001).

 

Prestasi Akademik (Indeks Prestasi)

 

Prestas akademik yang biasanya disebut dengan  indeks prestasi, merupakan gambaran hasil belajar yang telah diperoleh individu dalam pendidikan formalnya. Prestasi akademik menunjukkan taraf kemampuan individu dalam mengikuti program balajar pada waktu tertentu, sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Prestasi akademik ini biasanya dinyatakan dalam bentuk daftar nilai (Jensen, 1981; Djalali, 2001). Menjadikan prestasi akademik (indeks prestasi) sebagai tolok ukur dalam rangka seleksi tenaga kependidikan akan berkaitan erat dengan kinerja yang bersangkutan dan kualitas pendidikan itu sendiri. Indeks prestasi perlu dijadian sebagai salahsatu persayaratan dalam rangka penerimaan tenaga kependidikan. Ini dimaksudkan agar kualitas kinerja mereka dapat diandalkan. Karena keterampilan serta pengetahuan seseorang yang dicapai sebelumnya, berguna untuk tercapainya prestasi yang akan dicapai pada masa-masa selanjutnya (Drenth, lih. Djalali, 2001). Apabila para tenaga kependidikan memiliki kemampuan akademik yang tinggi, niscaya tidak akan pernah terjadi seperti yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya yaitu guru kalah pintar di bandingkan dengan muridnya.

 

Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi akademik. Menurut Tyler (1956), prestasi akademik banyak dipengaruhi oleh kondisi kepribadian yang kompleks. Prestasi akademik merupakan refleksi dari faktor-faktor lain dalam kepribadian yaitu kebiasaan atau ketekunan dalam belajar, disiplin, di samping kemampuan mental lain seperti inteligensi, bakat dan minat dan motivasi (Jensen, 1981; Jordan, 1981; Gettringer dan White, 1979). Jadi, tinggi rendahnya prestasi akademik yang dicapai seseorang di dalam menempuh pendidikannya, merupakan gambaran dari kemanpuan mental, ketekunan, disiplin dan motivasinya. Hal ini akan mempengaruhi kinerja  yang bersangkuatan dalam melakukan tugas-tugasnya yaitu melaksanakan transfer of learning kepada anak didiknya atau tugas-tugas lain yang memang menjadi kewajibannya sebagai guru atau dosen.

 

Kesimpulan 

 

Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, bahwa semua pihak berkepentingan terhadap motivasi kerja para tenaga kependidikan, karena kualitas pendidikan akan meningkat apabila kinerja mereka dapat ditingkatkan; sedangkan kualitas kinerja itu sendiri sangat tergantung pada motivasi kerja yang bersangkutan. Dalam hal ini, ada empat faktor motivasi kerja dosen yaitu pertama, adanya repon otonom dari yang bersangkutan dalam aktivitas proses belajar mengajar secara tulus. Kedua, adanya dorongan untuk mengevaluasi kemampuannya. Ketiga, adanya dorongan untuk melakukan tugas secara sempurna; dan keempat, adanya tanggung jawab moral dan sosial dalam melakukan tugas, terutama dalam hal yang berkaitan dengan kepentingan anak didiknya.  Motivasi itu sendiri dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal.

 

Faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi ialah insetif primer, yang antara lain ialah: upaya peningkatan pendapatan secara finasial, status sosial, rasa aman, tugas yang menarik serta kesempatan untuk berkembang sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen tahun 2005 khususnya Bab IV pasal 14 dan Bab V pasal 51. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa guru dan dosen berhak memperolah penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan prestasi kerjanya, memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, mendapatkan akses informasi, mendapatkan perlindungan dalam melakukan tugas kewajibannya dan seterusnya, adalah merupakan insentif primer  yang dapat mempengaruhi motivasi.

 

Faktor internal yang mempengaruhi motivasi adalah aspek-aspek kepribadian yang akan menjadi frame of reference atau kerangka acuan untuk berperilaku. Motivasi adalah salahsatu aspek kepribadian, tetapi motivasi itu sendiri sangat dipengaruhi oleh aspek kepribadian yang lain, yaitu: minat jabatan (keilmuan, hubungan interpersonal, layanan sosial, dan baca-tulis), inteligensi, bakat (pemahaman verbal, pemahaman abstrak dan bakat ekspresi) serta kemampuan akademik dari individu yang bersangkutan.

 

Minat jabatan keilmuan, hubungan interpersonal, layanan sosial, dan baca tulis memiliki karakteristik yang sama dengan tugas utama para tenaga kependidikan, yaitu melakukan pendidikan dan pengajaran dalam rangka transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didiknya. Karena memiliki karakteristik yang sama, maka yang bersangkutan akan memiliki motivasi yang tinggi pula di dalam melakukan tugasnya.

 

Tinggi rendahnya inteligensi sebagai kapasitas untuk mengantisipasi tugas-tugas dan tantangan yang dihadapi, akan berpengaruh pada tinggi rendahnya kemampuan dan kompetensi yang bersangkutan dalam melakukan kewajibannya. Semakin tinggi komptensi seorang guru atau dosen terhadap tugas kewajibannya, maka akan diikuti oleh semakin tingginya pula motivasi kerjanya yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan pengajaran dalam rangka transfer of learning kepada anak didiknya maupun kepada masyarakat luas.

 

Bakat pemahaman verbal, bakat pemahaman abstrak dan bakat ekspresi  merupakan bakat yang dibutuhkan untuk seorang pendidik. Semakin tinggi bakat tersebut dimliki oleh para tenaga kependidikan, maka akan semakin tinggi pula keterampilannya untuk makukan tugas kewajibannya.

 

Prestasi akademik yang didapat oleh seseorang dalam menempuh pendidikannya, merupakan gambaran dari kemampuan mental yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kepribadian, seperti: disiplin, kebiasaan dan ketekunan belajar, inteligensi, bakat dan motivasinya  yang inheren dalam dirinya. Dengan demikian, tinggi rendahnya prestasi akademik yang dimiliki oleh seorang pendidik diperkirakan akan berpengaruh terhadap motivasinya di dalam melakukan tugas-tugasnya sebagai pendidik.

 

Minat jabatan, inteligensi, bakat dan prestasi akademik merupakan faktor internal yang sangat berpengaruh terhadap motivasi para guru dan dosen sebagai tenaga profesional yang berperan sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat, di dalam melakukan tugas kewajibannya. Motivasi itu sendiri dalam hal ini motivasi untuk melaksanakan pendidikan dan pengajaran, merupakan faktor yang paling menentukan kualitas kinerja para guru dan dosen. Minat jabatan, inteligensi, bakat, prestasi akademik dan motivasi sabagai aspek kepribadian yang paling menentukan kinerja. Karena aspek-aspek kepribadian tadi merupakan kerangka acuan (frame of reference) untuk bertindak.

 

Insentif primer yang akan diberikan kepada para guru dan dosen, baik yang berupa faktor hygiene maupun faktor motivasional sebagaimana yang tertuang dalam U.U. Guru dan Dosen tahun 2005 akan berpengaruh positif atau negatif, tergantung pada frame of reference dari yang bersangkutan. Dalam ungkapan lain, sebesar apapun insentif primer yang akan diberikan, pengaruhnya terhadap kinerja, tergantung pada bagaimana cara individu menyikapi insentif tersebut. Cara individu menyikapi insentif tadi tergantung pada kondisi kepribadian sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian-uraian saya sebelumnya. Kualitas kinerja para pendidik, sangat tergantung pada kondisi kepribadian mereka masing-masing. Jadi di sini dapat disimpulkan bahwa kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kondisi  kepribadian para pendidiknya, karena kondisi kepribadian tadi menentukan kualitas kinerja mereka dan dari kualitas kinerja mereka inilah sebagian dari sekian banyak faktor yang ikut menentukan  kualitas pendidikan.

 

Saran

 

Atas dasar uraian di atas, di sini di sarankan apabila kita semua berkepentingan dengan kualitas pendidikan di Negara kita, maka kepedulian terhadap masalah kompetensi kepribadian (minat jabatan, inteligensi, bakat, kemampuan akademik dan motivasi dari para pendidiknya, merupakan masalah yang paling krusial untuk diperhatian di samping aspek-aspek lain seperti kompetensi paedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi professional (U.U. Guru dan Dosen Tahun 2005, Bab IV pasal 10), terutama dalam rangka seleksi. Seleksi dimaksud adalah dalam rangka seleksi calon mahasiswa kependidikan (calon mahasiswa keguruan), dalam rangka seleksi calon tenaga kependidikan dan dalam rangka sertivikasi profesi tenaga kependidikan.

 

Tujuan dari seleksi tersebut ialah untuk menjaring tenaga yang cerdas (inteligensi yang tinggi) yang mampu mangantisipasi perkembangan jaman, memiliki bakat yang sesuai dengan karakteristik dari tugas-tugas yang harus diemban oleh seorang pendidik, memiliki kemampuan akademik yang tinggi, dan memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan tugasnya sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan pengabdi kepada masyarakat.

 

Bagaimana dengan tenaga kependidikan yang ada saat ini yang disinyalir sebagian besar dari mereka kalah pintar di bandingkan dengan anak didiknya? Mungkin hanya buang-buang waktu dan enersi untuk menyesalinya. Lebih baik pihak-pihak yang berkompeten, mengambil langkah-langkah kongkret, untuk mengatasinya. Beberapa upaya kongkret yang dapat dilakukan adalah: kemampuan akademik mereka ditingkatkan dengan diberi kesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau dengan diikutkan kursus-kursus tambahan. Minat jabatan dan motivasi mereka dapat ditingkatkan dengan cara diadakan pelatihan-pelatihan. Insentif primer (baik yang faktor hygiene atau faktor motivasional) sebagaimana yang tersirat dalam U.U. Guru dan Dosen tahun 2005, dapat meningkatkan motivasi dan minat, bila diberikan secara riil, bukan hanya sekedar iming-iming atau hembusan angin surga belaka. Hanya mengenai inteligensi dan bakat, agaknya tidak banyak yang dapat dilakukan, karena hal tersebut merupakan aspek kepribadian yang bersifat laten dan  heriditer.

 

Sekarang yang penting, kita semua menatap  ke depan. Sebagaimana yang telah saya kemukakan dalam uraian saya sebelumnya, bahwa kinerja tenaga kependidikan adalah salah satu faktor yang sangat penting dari sekian banyak faktor yang menentukan kualitas pendidikan. Apabila kita semua berkepentingan terhadap mutu pendidikan yang baik, maka faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kinerja tenaga kependidikan agar betul-betul diperhatikan, baik yang eksternal ataupun yang internal. Dengan demikian, nantinya raw input tenaga kependidikan jangan sampai dari kalangan the weakest of the weak sebagaimana yang selama ini telah terjadi, terutama yang menyangkut masalah aspek kepribadiannya, sebagai modal dasar demi tercapainya kualitas kinerja mereka.

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

 

Albrow, M; 1989. Birokrasi, Terjemahan M. Rusli Karim dan Totok Daryanto, Penerbit P.T.  Tiara Wacana, Yogyakarta.

 

Ames, C; and Ames R; 1984. Systems of Student and Teacher Motivation : Toward a Qualitative Devinition. Journal of Educational Psychology. Vol. 75, No.4 535 -536.

 

Anastasi, A; 1976. Psychological Testing, McMillan Book Company, New York.

 

———————,1979. Filds of Applied Psychology 2 th Edition McGraw-Hill Kogakusha ltd; Tokyo.

 

———————, 1990. Psychological Testing, McMillan Book Company, New York.

 

Bennett, G.K.; Seashore H.G. and Wesman A.G; 1952. Differential Aptitude Test Manual 2 th Edition, The Psychological Corporation, New York field, Adam and co; New York.

 

Czubaj, C; A; 2002. Maintaining Teacher Motivation, Education, Vol. 116,   372-380.

 

Daniel T.L. and Esser J.K. 1980. Intrinsic Motivation as Influenced by Rewards, Task Interest, and Task Structure . Journal of Appied Psychology, Vol.65, No.5, 566 – 573.

 

Davis, K. and Newstrom, J.W; 1989. Human Behaviour at Work 8th. Edition, McGraw-Hill International Editions, New York.

 

Djalali, M;A. 2001. Psikologi Motivasi, Minat Jabatan, Inteligensi, Bakat dan Motivasi Kerja, Wineka Media.

 

————–; 2002. Memotivasi Diri Untuk Mengatasi Steres dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Guru,  Makalah disampaikan dalam seminar Usaha Menanggulangi Gejala Stres  Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Hidup Para Profesional (8 September, 2002) di Gedung serba Guna, IKIP-PGRI Banyuwangi.

 

————–; 1996. Indeks Prestasi dan Motivasi Kerja dosen (Penelitian Tidak Dipublikasikan) Lembaga Penelitian UNTAG Subaya.

 

Deci, E.L; Cassio, W.F; and Krussell, J; 1975. Cognitive Evaluation Theory and some Comments on The Calder staw Critique, Journal of Personality and SocialPsychology, 31, 18-35.

 

Elliot, E.S and Dweck C.S; 1988. Attitudes and  Social Cognition, Goals : An Aproach to Motivation and Achievement. Journal of Personality and Social Psychology, Vol.54, No.1, 5-12.

 

Flanagan, J.C; 1953. FACT :Exeminer Manual, Science Research Associates, Inc; Chicago.

 

Ford, M.E; and Tisak M.S; 1983. A Further Search for Social Intelligence, Journal of Educational Psychology, Vol. 75, No.2, 196 – 206.

 

Franken, R.E; 1982. Human Motivation, Brook / cole Publishing Company, Montery, California.

 

Galloway, D; 1985. Sources of Satisfaction and Dissatisfaction for New Zaeland Primary School Teachers, Educational Research, 27, 44-51.

 

Goldenson, R.M; 1984. Longman Dictionary of Psychology and Psychiatry, Longman, New York & London.

 

Guilford, H.P; 1956. General Psychology, 2 th Edition Third Printing, D. Van Nostrand Company Inc; Princetone New Jersey, New York, Totonto, London.

 

Hess, F; M; 2004. Teacher Quality, Teacher Pay, Policy Review, No. 124, 15-25, Questia Media America, Inc; http://www.questia.com.

 

Jensen, A. R. 1981. Straight Talk About Mental Test. The Free Press, New York.

 

Johnson, T.J; 1991. Profesi dan kekuasaan, Terjemahan Wilandari Supardan, Penerbit : Grafiti, Jakarta.

 

Jones, J.A; 1963. Principle of Guidance, McGraw-Hill Book Company Inc,

New York.

 

Jordan, T;J J; 1981. self Concept, motivation, and Academic achievement of Black Adolescences, Journal of Educational Reseach, Vol. 80, No. 5, 266-271.

 

Kompas, 3 Juli, 2006. M.A. Agar tidak Permisif Terhadap Pemberian, Rendahnya Gaji Tak Boleh Jadi Alasan, Hal. 3.

 

Kuder Preference Record Vocational Test. 1986. Manual, Urusan Produksi dan distribusi Alat Tes, Fak Psikologi Universitas Indonesia.

 

Luce, J; A; 2002. Carier Ladder: Modifying Teachers’ Work to Sutain Motivation, Journal of Education Questia Media America, Inc; www. Questia. Com.

                                  

 

Maier, N.R.F; 1970. Psychology in Industry, Third Edition, Oxford & IBH Publishing Co; New Delhi, Calcuta, Bombay.

 

 

Maslow, A.H; 1970. Motivation and Personality, 2 th Edition, Harper & Row Publisher, New York, Evanston and London.

 

——————, 1984. Motivasi dan Kepribadian dengan Ancangan Hirarhi Kebutuhan Manusia, Terjemahan Nurul Iman, Penerbit : P.T. Pustaka Binaan Pressindo, Jakarta.

 

Mastuhu, 1980. Masalah Mutu di Pendidikan Swasta, Analisis Pendidikan. Tahun I Nomer : 2 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 26 – 29.

 

McMahon, F.B; and McMahon, JW; 1986. Psychology The Hybrid Science, 5 th Edition, The Dorsey Press, Chicago, Illionois.

 

Newman, WH; 1963. Administrative Action The Techniques of Organisation and Management, Prentice Hall Asian Edition of Japan Inc; Tokyo.

 

Ofoegbu, F; I; 2004. Teacher Motivation : A Factor for Clasroom Effectiveness and School Improvement in Negeria, College Student Journal, Vol. 38.

 

Petri, H.L; 1981. Motivation : Thory and Research, Wads Worth Publishing Company, Belmont, California.

 

Phillips, J.S; and Lord, R.G; 1980. Determinants of Intrinsic Motivation : Locus of Control and Competence Information as Components of Deci’s Cognitive Evaluation Theory. Journal of Applied Psychology, Vol. 65, No.2, 211 – 218.

 

Pratomo, Siswo; Purnamaningsih, Esti, Hayu; Afiatin, Tina, 1992. Validitas Eksternal Culture Fair Intelligence Test (CFIT) dengan Tes Pema-haman, Tes Penalaran dan Tes Berhitung, Fak. Psikologi UGM, Yogyakarta.

 

Sondakh, Angelina, 2006. Profesionalisme Guru Sebagai Suatu Kebutuhan, Makalah disampaikan dalam Seminar Membangun Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Berkualitas, Jombang, 1 Februari, 2006.

 

Suyanto, Bagong, 2006. Dicari Guru yang Suversif, Makalah Disampaikan dalam Seminar  Membangun Profesionalisme Guru, Menuju Pendidikan Berkualitas, Jombang, 1 Februari, 2006.

Juni 30, 2009 Posted by | Psikologi Kepribadian | 2 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.