Drmasda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Handout Mata Kuliah Psikologi Motivasi

Maret 20, 2010 Posted by | Uncategorized | 36 Komentar

DIKTAT KULIAH FILSAFAT ILMU

FILSAFAT ILMU

       FILSAFAT

        Filsafat terdiri dari dua kata filo dan sofia yang berarti cinta dan kebijaksanaan. Cinta di sini dalam arti yang luas yaitu kinginan yang mendalam. Karena adanya kenginan yang mendalam, lalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih apa yang diingini tadi. Bijaksana  juga berarti pengetahuan. Jadi secara harfiah filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan yang berarti pula cinta akan pengetahuan secara mendalam (Poedjawijatna, 1980). Kegiatan kefilsafatan merupakan perenungan atau pemikiran secara ketat atau dengan sungguh-sungguh mengenai suatu permasalahan. Filsafat merupakan suatu upaya untuk mengadakan  analisis secara cermat terhadap permasalahan-permalahan yang dihadapi manusia melalui aktivitas-aktivitas  penalaran. Kemudian hasil analisis tersebut disusun secara sistematis untuk dipahami dan dijadikan sebagai dasar atau acuan perilaku manusia. Selanjutnya filsafat akan mengantarkan kita pada suatu pemahaman tersebut akan membimbing kita kearah yang lebih baik atau lebih layak yang tentunya lebih bijaksana (Kattsoff, 1996).

       Kemudian pengertian filsafat berkembang jauh dari arti harfiahnya, namun esensinya tidak terlepas dari upaya memberi pemahaman yang sedalam-dalamnya terhadap suatu masalah atau realitas. Filsafat diartikan sebagai upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematis serta menyeluruh terhadap realitas serta hakekat dari realitas tersebut. Filsafat juga berarti upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan manusia yang meliputi sumber, keabsahan, hakekat serta nilai-nilainya. Filsafat juga mengandung pengertian, penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh berbagai pengetahuan. Filsafat sebagai disiplin pengeetahuan yang berupaya untuk membantu manusia dalam melihat apa yang hendak dikatakan dan mengatakan apa yang hendak dilihat (Bagus, 1996). Filsafat juga berarti suatu cara berpikir yang radikal,  menyeluruh dan sedalam-dalamnya terhadap  permasalahan-permasalahan (Suriasumantri, 1997). Berpikir sedalam-dalamnya tentunya, untuk menemukan makna yang sedalam-dalamnya pula dari apa yang dipikirkan. Berpikir dalam dunia kefilsafatan tidak hanya sekedar berusaha untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga mempersoalkan jawaban yang diberikan. Kemajuan seseorang dalam berfilsafat, tidak hanya diukur dari jawaban yang diberikan, tetapi juga diukur dari pertanyaan yang diajukan (Sokrates, lih. Suriasumantri, 1997).

        ILMU

        Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu pengetahuan ilmiah sebagai sinonim  dari kata science atau dalam bahasa Indonesia di sebut dengan sains.Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan bagian dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia, terlepas dari persoalan apa yang diketahui itu benar atau salah. Ilmu pengetahuan sebagai bagian dari pengetahuan, yang membatasi diri pada pengetahuan yang benar saja. Tapi dalam masalah kebenaran ini perlu hati-hati, karena hal tersebut sangat tergantung pada kriteria apa yang digunakan dalam menentukan kebenaran tersebut. Ada tiga macam kebenaran ilmu pengetahuan, yaitu koheren, koresponden dan pragmatis.

        Ilmu pengetahuan ilmiah sering disebut dengan ilmu pengetahuan atau disebut dengan ilmu saja.  Ilmu adalah  sekelompok atau sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur dan sistematik mengenai suatu objek tertentu (Abas Hamami, lih. Siswomiharjo, 1989). Kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur dan sistematik tadi, memberikan penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan dengan menunjukkan sebab akibat dari suatu objek (Ofm, 1983). Ilmu merupakan buah pemikiran manusia dalam menjawab apa, bagaimana dan  mengapa (untuk apa). Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang dapat diandalkan dalam rangka menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala alam (Suriasumantri, 1997). Menjelaskan atau menerangkan serta meramalkan dalam rangka mengontrol gejala alam merupakan kegiatan pokok kegiatan keilmuan. Menerangkan di sini tidak hanya sekedar menginfentarisasi dan mendiskripsikan gejala-gejala alam saja, tetapi membahas tentang hubungan antar gejala tersebut (peursen, 1980).   

 

        Kegiatan keilmuan adalah suatu proses kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir tersebut adalah pembahasan mengenai berbagai macam gejala alam atau berbagai macam permasalahan yang dihadapi oleh manusia yang bergerak dari wilayah rasional ke empirik, dari kutub a-priori ke kutub a-posteriori, dari arah das solen ke das sein serta dari pola berpikir deduksi ke induksi.        Kegiatan berpikir tersebut bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum dalam bentuk teori, hukum-hukum, kaidah-kaidah dan asas dari berbagai permasalahan (Suriasumantri, 1997). Hasil yang didapat melalui proses tersebut adalah ilmu pengetahuan ilmiah, sebagaimana yang telah disebutkan dalam uraian terdahulu disebut dengan ilmu pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan atau hanya dengan sebutan ilmu saja.

        Ilmu  dicari manusia dalam rangka menerangkan, meramalkan dan mengontrol gejala alam sebagaimana yang telah dikemukakan dalam pembicraan terdahulu, yang saat ini berkembang begitu pesat, sihingga tidak mungkin seseorang dapat mengetahui semuanya, Untuk itu dalam perkembangannya lebih lanjut diadakan pemilahan-pemilahan, agar supaya lebih mudah untuk mempelajarinya. Karena tidak mungkin seseorang dapat menguasai semuanya. Ilmu kemudian ini menjadi menjadi tersepesialisasi dalam berbagai bidang kajiannya. Tapi secara garis besar dapat dikelompokkan dalam ilmu alam dan ilmu sosial. Ilmu alam (natural science) sasarannya dalah alam semesta. Ilmu pengetahuan sosial (social science) bidang kajiannya adalah perilaku manusia. Ilmu pengetahuan alam masih dikelompokkan menjadi ilmu fisik (physical sciences) dengan bidang kajiannya benda-benda mati, dan biologi yang bidang sasarannya adalah mahluk hidup. Antara ilmu alam  dan ilmu sosial tidak terdapat perbedaan yang prinsipiil; karena keduanya memiliki ciri keilmuan dan metode yang sama; hanya yang mungkin berbeda adalah tekniknya (Suriasumantri, 1997 dan suria sumantri, 1998).

        FILSAFAT ILMU

        Filsafat ilmu adalah refleksi filsafati yang tidak pernah mengenal titik henti dalam menjelajahi keilmuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan yang tidak pernah habis dipikirkan dan tidak akan pernah selesai diterangkan (Siswomiharjo, tt). Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat pengetahuan atau epistimologi (Suriasumantri, 1998). Filsafat pengetahuan (epistimologi) yang disebut pula dengan The Theory of Knowledge  lahir pada abad ke 18. Cabang ini membahas sumber-sumber pengetahuan, sarana-sarana pendukung dalam mendapatkan pengetahuan, kebenaran pengetahuan serta nilai-nilai  pengetahuan ilmiah. Sumber di mana manusia mendapatkan pengetahuan adalah pancaindra, penalaran, otoritas, intuisi, wahyu dan keyakinan. Kebenaran pengetahuan meliputi kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi dan kebenaran pragmatis. Sarana pendukung di dalam mendapatkan pengetahuan yaitu logika, matematika, statistika, bahasa dan metodologi penelitian (Siswomihardjo, 1989).

        Revolusi ilmu pengetahuan di berbagai bidang seperti astronomi, fisika, kimia, biologi molekuler, teknologi informatika dan robotika, teknologi trasplantasi organ tubuh manusia ke manusia, dan juga teknologi trasplantasi organ robot ke manusia sudah di depan mata, sampai pada teknologi kloning dan lain sebagainya, telah dilakukan dan dinikmati manfaatnya oleh manusia sejak abad ke 20 sampai menjelang milenium ketiga saat ini. Tetapi di sisi lain penemuan-penemuan tersebut tadi dapat merupakan ancaman dengan kemungkinan-kemungkinan akibat fatal bagi kehidupan manusia, baik dilhat dari sisi fisik, psikologis, sosiologis maupun moral. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada dan perkembangannya lebih lanjut, dapat saja digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan dorongan angkara murka manusia, Seperti senjata pembunuh masal yang dapat kita saksikan saat ini. Kemajuan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana telah dikemukakan di atas, jelas memunculkan sikap optimisme sekaligus pesimisme.

        Kalau melihat lagi ke belakang, perkembangan ilmu pengetahuan menuntut dan mengarah pada perbedaan-perbedaan atau spesialisasi-spesialisasi khususnya pada objek formanya. Ini terjadi sejak abad penalaran, yaitu sejak tampilnya Charles Darwin dengan teori evolusinya. Sebelum itu, ilmu adalah satu. Artinya tidak jelas atau tidak ada batasan antara objek yang satu dengan objek yang lain. Bahkan objek,  metode dan gunanya adalah satu, yang sering disebut dengan ngelmu (Suriasumantri, 1998). Ini jelas akan berpengaruh pada pola kehidupan kemasyarakatan yang tidak membagi pekerjaan atau tugas-tugas atas dasar bidang keahlian masing-masing atau spesialisasinya. Contoh ekstrim misalnya pada masyarakat primitif, seorang kepala suku bisa merangkap berbagai macam jabatan seperti hakim, penghulu, panglima perang, tukang tenung, tabib (untuk segala macam penyakit), bahkan sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan (Suriasumantri, 1998).

        Perkembangan ilmu yang sudah begitu terspesialisasi, memang sudah terbukti berpengaruh terhadap kepesatan perkembangan ilmu dan teknologi yang ada  saat ini. Akan tetapi spesialisasi dengan kapling masing-masing disiplin ilmu yang begitu sempit dan perkembangannya yang tidak terkontrol, akan menimbulkan masalah baru. Kenyataan yang ada, peroblema-problema yang dihadapi manusia yang semakin lama bertambah semakin kompleks, tidak dapat dipecahkan secara parsial yang hanya menggantungkan pada satu disiplin yang sempit saja. Misalnya pengadaan pemukiman penduduk, tidak hanya menyangkut masalah penyediaan lahan, bahan bangunan, masalah arsitektur dan lain-lain, tetapi juga menyangkut persoalan-pebrsoalan yang kompleks, baik yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosiologis dan moral. Dalam kondisi yang demikian, kiranya dirasa perlu untuk membuka saluran interaksi antara berbagai cabang ilmu untuk saling memberikan informasi dan kontribusi dalam rangka memecahkan persoalan kemanusiaan yang dihadapi bersama. Untuk membuka saluran komunikasi tadi, dibutuhkan adanya saling kontak antara berbagai disiplin menuju kearah pencapaian hakekat ilmu secara integral. Di sinilah pentingnya filsafat ilmu. Filsafat ilmu dengan cakupan bahasannya mengenai tiang penyangga eksistensi ilmu yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi, memungkinkan adanya keterjalinan antar cabang ilmu (Siswomihardjo, tt).  Sehingga dengan demikian, persoalan-persoalan yang sedang dan akan dihadapi bersama (yang tentunya begitu sulit bahkan tidak mungkin diselesaikan secara parsial), akan dapat dipecahkan bersama antar berbagai disiplin ilmu, bahkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain, yang tentunya secara aksiologis kesemuanya bermuara pada tujuan yang sama yaitu kemaslahatan manusia.

 

 

ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI

 

Semua pengetahuan berusaha menjawab semua persoalan yang dihadapi terhadap pertanyaan yang inheren dalam persoalan tersebut yaitu apa, bagaimana dan mengapa atau untuk apa. Maksudnya, apa yang telah, sedang atau akan dikaji, bagaimana cara mengkajinya, mengapa atau apa manfaatnya kajian tersebut. Pertanyaan tentang apa, bagaimana dan mengapa ini   dalam istilah kefilsafatan dikenal dengan istilah Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi. Filsafat menelaah objek kajiaanya atas dasar tiga sudut pandang tersebut.

 

Istilah ontologi merupakan sebutan lain dari metafisika yaitu segala sesuatu yang ada dibalik fisik. Sebetulnya istilah metafisika sendiri tidak dikenal dalam sejarah pemikiran filsafat Yunani. Istilah tersebut baru diperkenalkan pada awal abad pertengahan oleh Andronikos sebagai sebutan terhadap pemikran-pemikiran Aristoteles yang tertuang dalam tulisannya yang disebut dengan prote philosofia dan disusunnya kembali secara sistematis. Kemudian metafisika yang telah disusun oleh Andronikos tadi dikembangkan lagi oleh Christian Wolf (1679-1754) dan disebutnya dengan istilah ontologi (Wibisono dkk, 1989). Objek kajian metafisika adalah segala sesuatu yang ada, baik dalam abstraknya ataupun dalam kongkretnya. Misalnya pengenalan terhadap manusia, meliputi pengenalan terhadap keberadaan abstraknya sekaligus terhadap keberadaan dalam kongkretnya. Ada dalam abstraknya adalah yang ada dalam angan-angan dan pikiran, sebagai hasil dari absatraksi dan refleksi  terhadap objek-objek yang dijumpai atau objek-objek yang ada dalam kongkretnya. Dengan demikian, ontologi atau metafisika adalah pengetahuan yang merupakan cabang dari filsafat yang membicarakan tentang ada dan keberadanya.

Epistimologi berasal dari kata Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan kebenaraan dan logos yang berarti pikiran atau teori. Di sini epistimologi dapat dipahami sebagai Teori Pengetahuan atau The Theory of Knowledge yang juga disebut dengan The Phylosophy of Knowledge atau filsafat pengetahuan. Epistimologi membicarakan sumber pengetahuan, proses dalam mendapatkan pengetahuan, sarana pendukung dalam mendapatkan pengetahuan, macam-macam pengetahuan dan kebenaran pengetahuan. Salahsatu cabang dari filsafat pengetahuan, adalah filsafat ilmu. Jadi filsafat ilmu atau The Phylosophy of Science sebagaimana yang telah diuraikan dalam pembicaraan sebelumnya, adalah filsafat pengetahuan khusus yang memfilsafati pngetahuan ilmiah.

Masing-masing cabang pengetahuan termasuk ilmu pengetahuan ilmiah, menjawab apanya, bagaimananya dan mengapanya atau untuk apanya sendiri, dalam arti masing-masing pengetahuan memiliki ontologi, epistimologi dan aksiologinya sendiri. Kalau ontologi dalam kefilsafatan merupakan cabang dari filsafat yang menjawab pertanyaan yang meliputi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, misalnya apa alam semesta beserta hakikatnya, apa manusia itu dan sebagainya. Sedangkan ontologi ilmu pengetahuan ilmiah menjawab pertanyan tentang segala sesuatu  yang ada dan mungkin ada, tetapi yang dapat dijangkau oleh akal/penalaran, dan dapat diamati atau dialami oleh manusia. Misalnya pertanyaan tentang apa manusia (subjek) dibatasi pada aspek kebudanyaanya, psikologisnya, perilaku sosialnya dan berbagai aspeknya (objek) yang dapat dinalar sekaligus dapat diamati atau dialami.

Epistimologi kefilsafatan merupakan cabang dari filsafat yang membicarakan tentang bagai mana cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Ontologi dalam keilmuan yaitu metode atau cara dalam mendapatkan pengetahuan yang benar secara ilmiah. Misalnya bagaimana atau dengan metode apa yang dapat digunakan untuk mencapai objek dan subjek yang dikaji tadi.

Aksiologi ……………..  

  ILMU DALAM PERSPEKTIF PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT

Berfilsafat bukanlah monopoli para filosof, karena berfilsafat memang merupakan aktivitas manusia dari sejak awal keberadaannya. Disadari atau tidak, setiap individu akan berfilsafat pada saat dihadapkan pada masalah hidup yang fundamental, yang membutuhkan jawaban yang jelas. Ini diawali  sejak manusia   mulai mengagumi sesuatu, mempertanyakan makna serta asal mulanya. Sejak saat itu pula dengan berbagai upaya dan cara manusia berusaha mendapatkan jawaban, sekalipun jawaban yang didapat akhirnya masih berada dalam wilayah yang bersifat spekulatif dan non empirik (Siswomihardjo, 1985). Filsafat sebagai pengetahuan dan bahkan dikatakan sebagai induk dari semua pengetahuan di sini, dalam arti tradisi pemikiraan  barat atau filsafat barat. Filsafat barat tersebut tidak bisa terlepas dari tradisi pemikiran Yunani kono yang memang menjadi sumber atau akarnya di dalam sejarah perkembangannya.

Sekalipun filsafat bukanlah monopoli filosof barat, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan, tidak dapat dipisahkan dari  perkembangan filsafat barat sebagaimana telah disebutkan di atas, yang sumbernya memang dari filsafat Yunani kono. Ini dimulai dengan munculnya kaum sofis yang disusul kemudian oleh  Sokrates, Plato, Aristoteles dan lainnya. Sebelum munculnya kaum sofis tadi, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam hidupnya, orang Yunani mencari jawabannya dalam bentuk metos-metos. Atas dasar metologi, manusia pada waktu itu, berusaha menjelaskan berbagai macam gejala  alam  dengan segala macam aturannya; sedangkan para dewa dengan segala keperkasaan dan kekuasaannya ditempatkan sebagai sumber segala sesuatu yang ada dan terjadi di alam semesta.

DEMETOLOGI DARI KAUM SOFIS

MASA SOCRATES, PLATO DAN ARISTOTELES

MASA ABAD TENGAH

        MASA RENAISSANCE

        Masa ini renaissance muncul seiring dengan  berakhirnya masa abad pertengahan mulai abad ke 14 sampai dengan abad ke 15. Masa ini dianggap sebagai masa transisi antara jaman abad pertengahan dengan masa moderen. Begitu sulit menentukan pastinya kapan berakhirnya abad pertengahan secara tepat. Hanya pada abad ke 14 terjadi krisis dan titik jenuh abad tengah dimaksud dan puncaknya pada abad ke 15. Kemudian lahirlah suatu gerakan yang dikenal dengan gerakan renaissance. Kata renaissance berasal dari bahasa Italia yaitu renascimento yang  berarti kelahiran kembali.  Kelahiran kembali maksudnya adalah kelahiran suatu peradaban yang pernah berjaya yaitu pada masa Sokrates, Plato dan Aristoteles sebagai antiklimaks dari dominasi doktrin agama dan geraja pada abad tengah. Masa Sokrates, Plato dan Arestoteles adalah masa-masa di mana manusia memiliki kebebasannya untuk menggunakan rasionya sebagai sumber utama dalam mengenal dan mengerti dirinya sendiri, alam semesta serta  kenyataan hidup dengan segala bentuk dan hakekatnya. Pada masa itu hak individu sebagai manusia perseorangan diakui sebagai faktor utama dalam pengembangan budaya. Sebagai konsekuensi dari kebebasan menggunakan rasio, kebebasan setiap individu untuk mengembangkan budayanya adalah pemikiran waktu itu tidak hanya terkonsentrasi kepada hal-hal yang bersifat transendental saja, tetapi juga pada hal-hal yang bersifat immanent. Immanent adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. Para filosof masa ini berusaha menghidupkan kembali kebudayaan, kesusastraan dan kesenian klasik serta pemikiran kefilsafatan dengan mencari inspirasi dari warisan kebudayaan Yunani dan Romawi.

       Sekalipun dalam sejarah kefilsafatan disebutkan bahwa masa renaissance dimulai sejak abad ke 15, tetapi embrionya sudah terjadi sejak abad ke 14; oleh para humanis di Italia. Dalam masa  abad pertengahan, mereka  telah mempelajari naskah-naskah karya para penulis Yunani dan romawi. Para humanis mengusahakan adanya kepustakaan yang baik, dengan mengikuti jejak kebudayaan klasik. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan perkembangan sifat-sifat dan potensi alamiah yang dimiliki manusia. Para humanis Itali tidak menyangkal adanya kuasa yang lebih tinggi yaitu Tuhan dengan Wahyunya yang menjadi doktrin pada abad pertengahan. Hanya menurut mereka  potensi sifat dan potensi alamiah yang dimiliki oleh manusia memiliki nilai yang cukup untuk dikenali dalam rangka upaya memanusiakan manusia, karena dengan potensi yang ada, manusia dapat pula menghasilkan karya budaya. Mereka tidak serta merta meninggalkan ajaran Abad Tengah, tetapi berusaha menjembatani dalam rangka adaptasi antara doktrin gereja dengan filsafat dan kebudayaan Yunani klasik.

        Kemudian, di Jerman timbul pula kaum humanis. Hanya berbeda dengan kaum humanis di Italia yang masih mengindahkan kuasa yang lebih tinggi di atas manusia; kaum humanis Jerman hanya menerima hidup dalam batas-batas dunia sebagimana adanya yang terlepas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan dan Wahyu. Mereka menerima hidup apa adanya, dalam batas keduniawian. Demikianlah kaum humanis dengan upaya mempelajari naskah-naskah klasik Yunani dan romawi ikut mengantarkan kelahiran masa renaissance yang menjadikan kebudayaan hanya bersifat alamiah dan kongkret saja (Hadiwijoyo, 1980). Pada masa renaissance perkembangan penetahuan tidak hanya dalam bidang ilmu alam saja, tetapi juga dalam bidang ilmu ketatanegaraan (Hadiwijono, 1980).

 

       Tokoh-Tokoh Zaman Renaissance  

        Nikolaus Kopernikus (1473-1543). Copernikus adalah tokoh gereja ortodoks. Berdasarkan temuannya dia menyatakan bahwa matahari sebagai pusat jagat raya. Teori ini berbeda sama sekali dengan teori geosentrisme dari Ptolemeus yang telah diadopsi dan menjadi doktrin gereja pada saat itu; yang menyatakan bahwa pusat jagat raya adalah bumi. Pandangan Copernicus tadi disebut dengan heleosentrisme. Teori heleosentrisme menyatakan bahwa bumi memiliki dua macam gerak, yaitu  berputar pada porosnya setiap hari dan mengelilingi matahari setiap tahun. Copernikus tidak mempublikasikan temuannya, karena takut akan sangsi dari gereja. Setelah setahun kematiaanya tahun 1543, temuan tadi dipublikasikan oleh temannya. Buku tersebut dipersembahkan kepada Sri Paus, dan beredar secara luas dikalangan masyarakat tanpa ada kecurigaan. Orang hanya menganggap sebagai pendapat lain yang kebetulan berbeda dengan teori Ptolomeus yang memang menjadi tren pemikiran masyarakat waktu itu.

        Johanes Kepler (1571-1630). Ia adalah tokoh yang menerima teori heleosentrisme setelah Kopernikus. Dia menemukan tiga hukum gerak bagi planit-planit. Pertama, planit-planit bergerak dengan membuat lingkaran elips, mengelilingi matahari sebagai fokusnya. Kedua, garis yang menghubungkan pusat planit dengan matahari, dalam waktu yang sama akan membentuk bidang yang sama luasnya. Ketiga, kuadrad periode planit mengelilingi matahari, sebanding dengan pangkat tiga dari rata-rata jaraknya terhadap matahari.

        Galileo Galilei (1564-1642). Ia membuat sendiri sebuah teleskop setelah terinspirasi oleh teleskop buatan Hans Lipper yang ia kenal sebelumnya. Teleskop tadi dipakai untuk menjelajahi jagat raya, yang kemudian menemukan bahwa bintang bima sakti terdiri dari  bintang-bintang yang banyak sekali jumlahya; dan masing-masing bintang berdiri sendiri. Pandangnnya tentang jagat raya, sejalan dengan teori  heleosentrisme seagaimana halnya Kopernikus dan Johanes Kepler. Selain itu, ia adalah orang yang pertama menetapkan hukum akselerasi atau kecepatan benda jatuh baik dalam besarannya ataupun arah geraknya. Jika sesuatu benda jatuh di ruang kosong, maka kecepatan kejatuhan tadi akan tetap. Tetapi, kalau di ruang tadi ada udara yang bergerak secara berlawanan, maka kecepatan gerak kejatuhan tadi akan berubah. Akselerasi tadi akan tetap sama bagi semua benda, baik yang berat atau yang ringan. Ajaran heleosentrisme atas dasar temuan Galilei ini, menggoncangkan gereja. Pada tahun 1632 gereja secara terbuka menuntut Galilie untuk menarik ajarannya.

        Hugo Ge Groot (1583-1645). Ia menyusun gagasan tentang Hukum Internasional.

        Niccolo Machiavelli (1467-1525). Ia mengemukakan gagasan tetang negara otokratis.

        Thomas More (1480-1535). Ia memiliki obsesi tentang negara Utopia. Yang dimaksudkan dengan negara utopia adalah masyarakat agraris, yang berdasarkan keluaraga sebagai sistem kesatuan dasar, yang tidak mengenal hak milik pribadi dan tidak mengenal ekonomi uang.

       Masa renaissance, mengantarkan manusia pada kedewasaan berpikir sampai pada puncak kejayaannya pada abad ke-17. Pada masa ini muncul tokoh-tokoh besar dan dua aliran besar yang saling bertentangan yaitu aliran Rasionalisme dan Emprisme

       Francis Bacon (1961-1626). Ia berpandangan bahwa pengetahuan yang telah ada sebelumnya, tidak mendorong perkembangan pengetahuan, tidak ada kemajuan, dan tidak memberikan manfaat praktis bagi kehidupan manusia. Ia berupaya mengubah cara lama di dalam mendapatkan pengetahuan, dengan  upaya menyusun prosedur keilmuan secara logis dan  sisitematis. Ia lalu  mengembangkaan metode induksi moderen. Ia berupaya untuk menjadikan manusia dapat menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan cara penemuan-penemuan empirik.

 

DAFTAR PUSTAKA

        Bagus Lorens, 1996. Kamus Filsafat, Penerbit P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

         Bird, A; 2000. Philosophy of Science, Fundamental of Philosophy, Series Editor: John Shand

               U.C.L. Press, Taylor & Francis Group, London.

          Blashov, Y. and Rosenberg, A; 2002. Philosophy of Science Contemporary Readings,

                Routledge, Taylor & Francis Group, London and New York.

         Kattsoff, L; O; 1996. Pengantar Filsafat (Alih Bahasa, Sumargono), Penerbit Tiara Wacana,

               Yogyakarta.

         Ofm, Alex Lanur; 1983. Logika Selayang Pandang, Penerbit kanisius, yogyakarta.   

    

          Poedjawijatna, I;R; 1980. Pembimbing ke Arah Filsafat, Cetakan Kelima, Penerbit P.T.

                 Pembangunan, Jakarta.

           Siswomihardjo, Kunto, Wibisono, tt. Hubungan Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Budaya,

                (Bahan Kuliah untuk Program S-2 dan S-3 di UGM)

            ————–, 1985. Ilmu Filsafat dan Aktualitasnya dalam Pembangunan Nasional, Pidato

         Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yog-

         yakarta.

            ————–, 1989. Materi Pokok Dasar-Dasar Filsafat, (Universitas Terbuka), Penerbit

                 Kurnia, Jakarta.

            Suriasumantri, Jujun, 1997.  Ilmu dalam Persfektif Sebuah Kumpulan Karangan Hakekat

                 Ilmu, Cetakan Ketigabelas, Penerbit Yayasan Obor, Indonesia.

             ————–, 1998. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cetakan kesebelas, Penerbit

                  Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

             Van Peursen, 1980. Susunan Ilmu Penegetahuan, Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu

                  (Terjemahan J. Drost), Penerbit P.T. Gramedia, Jakarta.

 

Maret 20, 2010 Posted by | Filsafat Ilmu | Tinggalkan komentar

DIKTAT KULIAH PSIKOLOGI MOTIVASI

PENGANTAR

Pengertian Motivasi

Istilah motivasi digunakan untuk menjelaskan adanya daya atau kekuatan yang mendorong dan mengarahkan organisme untuk melakukan aktivitas tertentu. Di sini perlu diketahui bahwa beberapa ahli tidak secara lansung menyebut kata motivasi seperti William James, William McDougal, Konrad Lorenz dan Niko Timbergen menyebutnya dengan insting, Sigmund Freud dengan istilah energi psikis, Robert Session Woodworth dan Clark Hull dengan drive, Kurt Lewin dengan force atau vector Skinner dengan reinforcement serta Abraham Maslow dan Alderfer dengan kebutuhan (need). Istilah tersebut di atas dalam konteksnya masing-masing berkonotasi dengan motivasi. Bahkan Keinginna dan Keinginna (lih. Petri, 1976), menemukan 102 istilah  definisi dan statemen-statemen yang berkonotasi dengan  motivasi dalam tulisan-tulisan dan topik-topik yang berbeda. Sekalipun terdapat banyak definisi yang berbeda, tapi secara umum memberikan gambaran bahwa karakteristik dari motivasi adalah wilayah yang berfungsi mengaktifkan perilaku.

Sehubungan dengan pengertian motivasi sebagai daya atau kekuatan yang mendorong dan mengarahkan organisme untuk melakukan aktivitas terntu tadi,   dapat  disimak pendapat para ahli sebagai berikut. McMachon dan McMachon (1986), menyatakan bahwa motivasi merupakan suatu proses yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Menurut Teevan dan Smith (1967), motivasi adalah suatu konstruksi yang mengaktifkan dan mengarahkan prilaku dengan cara memberi dorongan atau daya pada organisme untuk melakukan suatu aktivitas. Menurut Chauhan (1978), motivasi adalah suatu proses yang menyebabkan timbulnya aktivitas organisme sehingga terjadi suatu perilaku. Petri (1981 & 1996), menyatakan bahwa motivasi merupakan suatu konsep yang digunakan untuk menjelaskan adanya kekuatan di dalam organisme yang mendorong dan mengarahkan perilaku. Membahas tentang motivasi, maka yangtercakup di dalamnya adalah arah dan persistensi (Franken, 1982 & 2002). Motivasi merupakan penggerak dan pemberi arah dalam proses munculnya perilaku serta pemberdaya terhadap perilaku yang ada, sehingga perilaku tersebut tetap persisten (berkesinambungan) sampai tujuan tercapai. Motivasi sebagai pemberi arah, tentunya arah dimaksud tertuju pada objek yang berkaitan dengan tujuan perilaku. Atau sebaliknya, mengarahkan untuk menghindari objek dimaksud. Oleh karena itu motivasi dapat dikatakan pula sebagai kontrol terhadap perilaku (Buck, 1988). Di sini dapat dipahami, bahwa dengan adanya motivasi maka akan muncul suatu proses yang mendorong dan mengarahkan organisme pada suatu tindakan tertentu dan berlangsung secara persisten sehingga tujuan tercapai.

Motivasi yang mendorong organisme atau menggerakkan dan mengarahkan organisme untuk melakukan tindakan tertentu tersebut, distimulasi oleh faktor  internal seperti haus, lapar, rasa sakit dan kondisi-kondisi fisiologis yang lain  serta faktor eksternal yaitu yaitu stimulasi-stimulasi yang datangnya dari lingkungan. Kondisi lapar misalnya, akan mendorong individu untuk untuk pergi ke ruang makan atau mencari restoran dan rasa haus akan mendorong individu untuk membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman. Stimulasi lingkungan yang mendorong munculnya tingkah laku, misalnya irama musik memotivasi orang untuk berdansa, atau seseorang yang masuk perguruan tinggi, dengan maksud untuk mendapatkan gelar sarjana (Dekkers, 20001). Sekalipun motivasi dapat distimulasi oleh faktor eksternal, keberadaan motivasi tetap ada pada dunia internal yaitu di dalam organisme. Dalam kaitannya dengan kemunculan motivasi, dominasi dari salah satu faktor di atas, akan menentukan kualita dari motivasi dimaksud. Apabila yang dominan fakktor eksternal, maka motivasi yang ada dikatagorikan pada motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik, biasanya dipicu oleh objek eksternal yang berkaitan dengan kebutuhan dasar. Misalnya orang melakukan aktivitas dalam rangka untuk mendaptkan makanan dan minuman. Apabila yang dominan adalah faktor internal, maka motivasi dimaksud dikatagorikan sebagai motivasi intrinsik. Orang yang melakukan sesuatu didasari oleh motivasi intrinsik, akan mendapatkan kepuasan tidak pada hasil (outcome) yang berkaitan dengan imbalan terutama materi yang berkaitan dengan aktivitas tersebut; akan tetapi kepuasan yang didapat terletak pada aktivitas itu sendiri.

Motivasi, baik yang intrinsik ataupun ekstrinsik adalah kondisi internal yang merupakan kekuatan atau dorongan yang ada dalam organisme. Motivasi ekstrinsik cenderung mengarahkan perilaku untuk mrndapatkan kompensasi atau insentif dari dunia eksternal, baik yang berupa materi atau non materi. Misalnya seorang nelayan pergi ke laut lepas untuk mendapatkan ikan, seorang penambang mengadakan penambangan untuk mendapatkan emas atau hasil tambang yang lain, seorang buruh bekerja untuk mendapatkan upah, seorang pegawai bekerja rajin dan disiplin dengan harapan untuk mendapatkan promosi dan penghargaan dari atasannya,  seorang mahasiswa belajar dengan keras agar mendapatkan predikat mahasiswa teladan atau agar cepat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan merupakan refleksi dari motivasi ekstrinsik. Motivasi baik yang intrinsik atau ekstrinsik keduanya merupakan kondisi internal yang menjadi faktor penyebab timbulnya tingkah laku.

Dalam buku ini tidak terlalu mempermasalahkan tentang motivasi ekstrinsik ataupun motivasi intrinsik, tetapi lebih menekankan pada sejumlah teori mengenai motivasi, dilihat dari cara pendekatannya, baik yang  instingtif, behavioris ataupun yang kognitif. Pendekatan instingtif sering disebut dengan istilah pendekatan fisiologis atau biologis. Pendekatan behavioris atau pendekatan yang didasarkan pada teori belajar mencakup teori drive, insentif, kondisioning klasik, kondisioning operan dan modeling. Pendekatan kognitif meliputi teori keseimbangan kognitif, harapan, efek sosial dan pertumbuhan. Buku ini  cenderung menyajikan berbagai macam teori motivasi  dari berbagai macam cara pendekatannya,  sesuai dengan kebutuhan tanpa terjebak dengan pengelompokan-pengelompokan sebagaimana tersebut di atas tadi.

Penelitian dalam Psikologi Motivasi

Penelitian dalam bidang psikologi motivasi, seperti halnya penelitian-penelitian dalam bidang psikologi pada umumnya dibedakan berdasarkan subjeknya, berdasarkan metode yang digunakan dan berdasar kedudukannya sebagai vriabel. Berdasar subjeknya peneletian dalam bidang psikologi motivasi yaitu binatang dan manusia. Berdasar metodenya yaitu penelitian korelasional dan penelitian eksperimental. Berdasar kedudukannya sebagai variable, yaitu sebagai variabel dependen (kriterium) dan sebagai variabel independen (prediktor)

WILLIAM JAMES

William James mengemukakan bahwa insting sama dengan refleks-refleks yang disebabkan oleh adanya mekanisme sensor fisiologis terhadap stimulus yang pada mulanya tanpa diketahui. Ia juga mengatakan bahwa insting merupakan impuls yang berada di wilayah motivasi, dengan pengertian bahwa inting adalah suatu kekuatan yang mendorong organisme untuk melakukan aktivitas. Insting ada yang bersifat permanen yang tetap bertahan selama kehidupan organisme, seperti insting lapar, haus, insting seksual dan insting-insting yang lain. Sedangkan insting yang tidak permanen atau yang sifatnya sementara, hanya terjadi terjadi pada periode tertentu dalam rentang kehidupan organisme, yang disebut dengan imprinting (periksa teori Lorenz & Timbergen). Contoh perilaku yang terdorong oleh imprinting ini adalah anak itik yang baru ditetaskan, bergerak mengikuti gerakan objek yang pertama kali dilihatnya, tetapi setelah dewasa perilaku tersebut tidak dilakukannya. Contoh lain, yaitu perilaku anak itik yang selalu mengikuti ke mana pergi induk ayam yang selama ini telah mengeraminya, tetapi setelah dewasa lalu meninggalkannya, kemudian bergabung dengan itik-itik dewasa lain. Hal ini juga terjadi pada manusia sekalipun tidak seprimitif seperti apa yang terjadi pada binatang. Misalnya, anak yang lebih lekat terhadap pengasuh atau baby sitter nya, dibandingkan terhadap orang tuanya. Tetapi pada masa-masa perkembangan selanjutnya, kelekatan tadi akan beralih kepada bapak ibunya sendiri. Mengenai imprinting ini juga periksa teori McDougall di bab lain.

Insting meliputi: dorongan untuk bersaing, berkelahi, bersimpati, berburu, rasa takut, memiliki, membangun, bermain, rasa ingin tahu, berhubungan dengan orang lain, rasa malu, berahasia, kebersihan, kerendahan hati, cemburu dan cinta.

James percaya bahwa insting sebagai impuls yang mendorong munculnya tingkah-laku, tidak diketahui kemunculannya, akan tetapi manusia dapat mengontrol atau mengendalikannya, terutama dengan pengalaman-pengalaman yang ada. Misalnya insting lapar, insting haus, insting seksual atau insting-insting yang lain, mungkin datang secara tiba-tiba tanpa disengaja. Akan tetapi manusia memiliki kemampuan untuk melakukan, menunda atau tidak sama sekali untuk memenuhi atau memuaskan insitng-insting tersebut. James juga percaya, perilaku instingtif dapat dimodifikasi melalui pengalaman. Sebagai contoh misalnya, insting yang berkaitan dengan kesopanan akan menyebabkan seseorang merah mukanya dan serta merta akan memalingkan muka manakala secara tanpa sengaja melihat orang berjemur di pantai dalam keadaan bugil. Akan tetapi tidaklah demikian bagi orang-orang yang sudah terbiasa melihatnya, yang tentunya akan tenag-tenag saja, bahkan mungkin tidak ambilpeduli meghadapi hal yang demikian itu.

James memandang perilaku instingtif sebagai intermediasi antara refleks-refleks dan proses belajar. Dalam hal ini insting tidak hanya dipandangnya sebagai kondisi yang menunjuk kepada suatu keadaan yang hanya berkaitan dengan kebutuhan fisiologis saja, seperti keadaan lapar, haus, rasa sakit dan sebagainya. Di sini rupanya James cenderung menganggap insting sebagai sinonim dari motivasi. Ini dapat dilihat dari klasifikasi insting yang dikemukakannya sudah begitu kompleks dan menyeluruh seperti dorongan untuk bersaing, keingintahuan, dorongan berkelahi, keinginan untuk bergaul, dorongan untuk bersimpati, rasa malu, rasa takut, dorongan untuk memiliki, dorongan untuk bersopan santun, rasa cemburu, rasa cinta dan dorongan untuk membangun.

Selain konsep tentang insting, James mengajukan konsep tentang ideo motor action atau tindakan ideomotor. Dalam kenyataannya, tingkah laku tidak hanya didorong oleh insting saja, tetapi juga digerakkan oleh ide-ide atau pikiran tertentu yang dikatakan sebagai tindakan ideomotor tadi. Ide-ide tersebut dikemukakan oleh james dalam kaitannya dengan tujuan atau keinginan tertentu yang hendak dicapai dalam suatu aktivitas. Ini dicontohkan oleh Petri (1981; 1996) bahwa: bila kita menulis, kita tidak menyadari kalau hal tersebut menyangkut koordinasi yang rumit dari otot-otot dan sistem persyarafan, agar supaya dapat membuat garis dan lingkaran untuk menggambarkan sebuah kata. Kita menulis begitu lancar dengan pikiran sederhana tentang kata-kata dan meletakkan tangan di atas kertas. Apabila kita ingin berhenti menulis, atau pikiran kita memutuskan untuk berhenti menulis, maka berhentilah aktivitas menulis tadi. Sebaliknya, sekalipun kondisi kita dalam keadaan lelah, kurang bersemangat, sehingga dorongan untuk meneruskan menulis rendah. Tetapi karena pikiran kita menghendaki untuk menyelesaikan tulisan tadi secepat mungkin, maka aktivitas menulis akan terus dilakukan sampai selesai.

Dalam uraian sebelumnya, dikemukakan bahwa manusia dapat mengontrol insting yang biasanya muncul tanpa diketahui. Mungkin gerakan ideomotor inilah yang melakukan fungsi kontrol tersebut. Misalnya, ketika insting lapar secara tiba-tiba muncul, tentunya organisme tidak serta merta atau langsung melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pemuasan insting lapar tadi. Organisme yang bersangkutan mungkin masih berpikir terlebih dahulu kapan dimulai aktivitas pemenuhan, di mana akan dilakukan dan objek mana atau makanan macam apa yang akan dimakan sebagai objek pemuasan. Atau mungkin pula organisme yang bersangkutan sama sekali tidak melakukan aktivitas apapun yang berkaitan dengan insting lapar tadi, sekalipun dorongan yang ada begitu besar apabila pikiran tidak menghendaki unntuk melakukan. Di sini James juga memberi catatan bahwa adanya sebuah ide untuk melakukan sesuatu, tidak serta merta berkelanjutan pada munculnya suatu perilaku aktual, terutama apabila dalam waktu yang sama muncul ide-ide yang bertentangan. Misalnya, seseorang yang betul-betul lapar dan makanan sudah tersedia, tetapi memutuskan untuk menunda untuk makan dengan pertimbangan ada orang lain di sekitarnya yang juga lapar; sedangkan makanan yang ada tidak mencukupi untuk dibagi.

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, James berpandangan bahwa manusia memiliki insting-insting seperti yang dimiliki binatang juga insting-insting yang khas manusia. Sebagai tokoh yang konsepnya banyak dipengaruhi oleh teori evolusi, James menjelaskan bagaimana peranan berbagai macam insting dari yang sederhana sampai pada tingkat evolusi yang peling tinggi yaitu insting yang hanya ada pada manusia dalam proses munculnya tingkah laku. Suatu koreksi yang ditujukan kepadanya, adalah tidak adanya penjabaran secara jelas yang mana gerakan-gerakan refleks, yang mana perilaku instingtif dan yang mana pula perilaku yang didapat melalui proses belajar. Padahal ketiganya jelas berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mungkin inilah konsekuensi dari teori James yang menganggap insting sebagai sinonim dari motivasi.

WILLIAM McDOUGALL

McDougall agak berbeda pandangannya dengan William James. Bila James memandang insting sama dengan reflek-reflek, ia meyakini bahwa semua tingkah laku sifatnya instingtif kecuali reflek-reflek. Bila ingin memahami motivasi, maka tugas utamanya adalah berusaha mengungkap dalam arti mencari kejelasan mengenai berbagai macam insting dalam kehidupan organisme. Perilaku instingtif meliputi: dorongan yang berkaitan dengan masalah pengasuhan anak, rasa simpati, dorongan menyerang, naluri mempertahankan diri, rasa ingin tahu tahu, kepatuhan, mencari makanan, dorongan untuk kawin, penolakan, melarikan diri, dorongan untuk minta tolong, dorongan berkelompok serta dorongan untuk membangun.

McDougall menyatakan bahwa insting tidak hanya sekedar disposisi-disposisi yang mendorong munculnya tingkah laku tertentu saja, karena insting yang dimaksudkannya sudah menyangkut aspek kognitif, afekktif dan aspek konatif. Aspek kognitif adalah aspek pikir yang berfungsi untuk mengenali, mengkaji atau menganalisis dalam rangka menemukan, kemudian menseleksi berbagai macam objek pemuasan atau perasaan subjektif yang dirasakan oleh organisme terhadap objek-objek pemuasan, atau perasaan subjektif yang disebabkan oleh munculnya perilaku. Aspek konatif adalah kehendak atau upaya untuk meraih objek pemuasan yang ada di luar diri organisme. Di sini rupanya McDougall memahami insting tidak hanya sebagai kondisi yang mendorong organisme untuk melakukan aktivitas tetapi sebagai suatu rangkaian proses munculnya perilaku, mulai dari proses kognisi, afeksi dan konasi. Melalui aspek kognisi, organisme berpikir bagaimana menemukan objek pemuasan yang tepat dalam rangka memuaskan insting yang ada. Aspek afeksi merupakan perasaan subjektif yang memungkinkan organisme dapat menyikapi objek pemuasan yang tersedia, dengan muatan suka tidak suka, menerima atau menolak, setuju tidak setuju, serta senang atau tidak senang. Apabila objek pemuasan yang tersedia sudah disikapi, misalnya dengan rasa suka, senang atau setuju, maka aspek konasi akan mendorong organisme untuk mendekati objek tadi, yang tentunya akan berkelanjutan dengan munculnya perilaku. Sebaliknya bila objek yang tersedia disikapi dengan negatif, misalnya tidak suka, tidak senang atau tidak setuju, maka aspek konatif akan mendorong organisme untuk menjauhi objek yang ada tadi.

Mengenai konsep tentang ketiga aspek yaitu kognisi, afeksi dan konasi sebagai komponen dalam arti sebagai sustansi dari motivasi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya akan menimbulkan kerancuan. Oleh sebab itu diperlukan kecermatan dalam rangka memahaminya. Memang, pemikiran, pengenalan dan pemahaman seseorang tentang suatu objek akan membentuk sikap orang tersebut terhadap objek tadi. Sikap seseorang terhadap suatu objek akan mendorong orang tersebut untuk mendekati atau menjauhi objek tadi, sehingga muncullah perilaku tertentu. Tetapi, sekalipun seseorang memiliki pemahahaman yang baik terhadap suatu objek, tidak serta merta memiliki sikap positif pula terhadap objek tadi. Misalnya saja seseorang yang tahu banyak tentang Osamah bin Laden, kalau ia adalah konglomerat berkewarga-negaraan Arab Saudi, pemimpin gerakan Al-Kaedah, pernah mendapatkan latihan militer dari CIA Amerika Serikat, pahlawan bagi Afganistan dalam rangka melawan pendudukan Uni Sovyet dan seterusnya sampai sedetil-detilnya, tidak berarti yang bersangkutan tadi bersimpati atau memiliki sikap posistif dengan Osamah bin Laden dan apa yang dilakukan. Contoh lain, Amin Rais (mantan ketua DPR-RI, 199-2004) ilmuan politik internasional, ahli dalam politik kawasan Timur Tengah. Konon beritanya beliau tahu betul tentang Israil mulai dari historisnya, langkah politiknya, hubungannya dengan negara-negara barat, negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan negara-negara lain di dunia ini, keadaan dalam negerinya sampai nama jalan dan gang di sana dihafalnya pula. Apakah Amin Rais memiliki sifat positif terhadap Israil ? Ternyata beliau termasuk bagian dari orang-orang yang anti Israil dengan Zionisnya.

Apabila seseorang memiliki pemahaman yang baik serta sikap positif terhadap suatu objek, tidak bisa serta merta disimpulkan bahwa hal tersebut merupakan representasi dari dorongan yang bersangkutan untuk mendekati objek tadi (melakukan sesuatu yang berkaitan dengan objek tersebut). Dari uraian di atas, posisi antara ketiga aspek (kognisi, afeksi dan konasi) tersebut tidak sejajar sebagai komponen dari motivasi, tetapi berhubungan secara gradual dalam rangka memotivasi untuk kemunculan suatu perilaku. Kognisi akan mempengaruhi afeksi dan afeksi akan mempengaruhi konasi, selanjutnya konasi ini yang mendorong organisme untuk melakukan aktivitas tertentu. Rupanya di sini dapat dipahami bahwa konasilah yang merupakan komponen motivasi atau mungkin juga motivasi yang merupakan komponnen konasi atau justru konasi itu sendri adalah motivasi atau dorongan untuk bertindak.

Menurut McDougall, insting dapat diubah melalui empat cara. Pertama, suatu insting tidak hanya diakktifkan oleh objek eksternal yang spesifik langsung saja, tetapi diaktifkan juga oleh objek yang tidak langsung serta ide-ide atau bayangan-bayangan dari objek tadi. Dengan demikian objek yang secara langsug akan memicu kemunculan insting, dapat diubah atau diganti dengan objek-objek lain yang tidak langsung. Misalnya makanan dapat mengaktifkan insting yang berkaitan dengan perilaku memuaskan inting lapar, tetapi hal tersebut dapat pula distimulasi dengan iklan-iklan tentang makanan di surat kabar, TV, radio dan media lain. Insting seksual tidak hanya dipicu oleh organ-organ seksual atau objek-objek seksual secara langsung, tetapi juga dipicu oleh gambar-gambar, cerita-cerita dan filem-filem yang berkaitan dengan aktivitas seksual.

Kedua, kemunculan perilaku instingtif dapat dimodifikasi sesuai dengan tahapan perkembangan. Rasa ingin tahu bayi terhadap lingkungannya dilakukan dengan cara merangkak megitari ruangan, selanjutnya pada masa kanak-kanak hal tersebut terekspresikan dalam perilaku membongkar pasang mainannya atau berburu binatang kecil di leingkungan alam sekitarnya. Setelah dewasa insting ini bisa dimodifikasi dalam bentuk perilaku membaca buku-buku ilmu pengetahuan dan melakukan penelitian di lapangan maupundi laboratorium. Dalam contoh di atas, insting keingintahuan masih tetap keberadaannya seperti semula, tetapi ekspresi atau manifestasinya dapat berubah sesuai dengan tingkat perkembangan.

Ketiga, beberapa insting mungkin dapat dipicu secara simultan dan dengan demikian tingkahlaku yang muncul dipicu oleh sejumlah insting yang menyenangkan atau menggairahkan secara bersama-sama. Perilaku seksual pada remaja menurut McDougall, merefleksikan komposisi dari insting keingintahuan, dorongan untuk kawin dan keinginan untuk bercumbu. Kasus bunuh diri dengan menabrakkan pesawat terbang pada menara kembar di Washington D.C; Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 mungkin merupakan akumulasi dari insting agresif yang ada pada dirinya, kebencian terhadap Amerika yang dianggap memiliki stadar ganda dalam menyelesaikan konflik Plestina dengan Israil dan masalah lain di timur tengah dan Negara-negara Islam, kebencian terhadap Zionis, dorongan kepahlawanan serta keinginan untuk mati syahid. Kasus peledakan  bom di jalan Legian pantai Kuta Denpasar Bali pada tanggal 12 Okktober tahun 2002 mungkin merupakanakumulasi dari dorongan agresif, kebencian terhadap negara Amerika Serikat, niat balas dendam terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai perilaku penindasan terhadap umat Islam di seluruh dunia, reaksi terhadap fenomena kehidupan malam yang dianggap sebagai gejala dari dekadensi moral yang terjadi di sana, serta dorongan untuk melakukan jihad.

Keempat, perilaku-perilaku instingtif mungkin mengarah secara teroeganisir terhadap sejumlah objek tersebut dan sebab itu organisme tidak responsif terhadap objek-objek lain. Misalnya, orang yang memiliki minat yang tinggi terhadap kegiatan olah raga sepak bola, perhatian dan aktivitasnya banyak tertuju pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan olah raga tersebut seperti menonton pertandingan secara langsung, melihat tayangan di televisi, membaca bacaan-bacaan serta mengikuti berita-berita yang berkaitan dengan olah raga sepak bola tadi dan tidak responsif terhadap berita-berita serta kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan dunia  musik atau yang lainnya. Perilaku instingtif yang terarah secara terorganisir pada objek tertentu dengan intensitas respon yang cukup dalam suatu situasi seperti tersebut di atas, mungkin tidak begitu responsif atau intensitasnya berbeda dalam situasi yang lain. Misalnya orang yang menunjukkan motivasi yang tinggi dalam lingkungan kerjanya bisa saja terjadi sebaliknya kalau berada di rumah. Atau seorang karyawan yang teridentifikasi memiliki motivasi rendah dalam suatu unit, menunjukan mutivasi yang tinggi setelah dimutasi ke unit lain. Atau dapat juga sebaliknya yang semula memiliki mutivasi optimal, kemudian menurun setelah dimutasi ke bagian lain.

Suatu koreksi terhadap teori McDougall sebagaimana tersebut di atas adalah sangat antropomorfis. Maksudnya, ia mengatribusikan sifat-sifat manusia pada binatang. Misalnya, kalau melihat seekor anjing yang menjilati luka-luka di tubuh anjing lainnya, dikatakan bahwa anjing tadi memiliki rasa simpati terhadap anjing lainnya. Contoh lain dari pandangan antromorfis ini misalnya seorang yang mengatakan bahwa kucing merasa sangat bersalah setelah membunuh burung murai piaraan saya. Rasa simpati pada anjing dan rasa bersalah pada kucing sebagaimana contoh di atas, masih menimbulkan perdebatan tentang keberadaannya. Karena dalam kenyataannya, rasa simpati dan rasa bersalah adalah sifat manusia yang

keberadaannya sangat banyak dipengaruhi oleh pengalaman yang tentunya tidak terjadi pada binatang. Koreksi ini sebagaimana halnya yang ditujukan kepada William James, McDougall tidak menguraikan secara jelas, yang mana tingkah laku instingtif dan yang mana pula tingkah laku yang didapat melalui proses belajar. Problem tumpang tindihnya antara konsep perilaku instingtif dan perilaku yang dipelajari merupakan konsekuensi dari pemahaman McDougall bahwa semua perilaku itu adalah instingtif

SIGMUND FREUD

Freud menggunakan konsep enersi dalam menjelaskan motivasi. Ia menyebut motivasi dengan enersi psikologis, sekalipun definisi mengenai hal tersebut tidak pernah dipaparkan secara jelas. Kadang-kadang ia menyamakan enersi psikis sebagai stimulasi yang terjadi dalam sistem persyarafan dan pada kesempatan lain ia menganggapnya sebagai sistem hidrolik yang berkaitan dengan penyimpanan dan pelepasan enersi. Namun dengan demikian Freud menegaskan bahwa enersi psikis berada dalam salah satu struktur kepribadian yaitu id (aspek psikologis dari kepribadian). Proses timbulnya enersi psikologis bermula dari adanya kebutuhan-kebutuhan fisiologis yang menyebabkan ketegangan pada organisme. Ketegangan ini menimbulkan insting dan dari insting inilah muncul enersi psikologis.

Berbicara tentang enesi psikologis, tentang insting dan segala hal yang berkaitan dengan perilaku tidak bisa terlepas dari konsep Freud tentang struktur kepribadian. Menurut Freud, struktur kepribadian manusia terdiri dari tiga komponen yaitu: id, ego dan super ego. Id adalah aspek fisiologis, ego adalah aspek pswikologis dan super ego merupakan aspek moral dari kepribadian. Id sebagai aspek fisiologis, disebut oleh Freud sebagai gudang raksasa tempat berkumpulnya insting-insting. Keberadaan insting seperti yang telah disebut di atas tadi, adalah sebagai akibat dari munculnya kebutuhan-kebutuhan dalam organisme. Kebutuhan akan air dalam tubuh misalnya, akan memunculkan insting haus dan kebutuhan akan makanan akan memunculkan insting lapar. Kehadiran insting bertujuan untuk memberikan pemuasan terhdap kebutuhan yang ada, dengan cara menghilangkan insting itu sendiri. Misalnya insting haus untuk menghilangkan rasa haus dan insting lapar untuk menghilangkan kondisi lapar yang terjadi dalam tubuh. Ketika proses memberikan pemuasan terhadap kebutuhan, insting memunculkan enersi yang oleh Freud disebut dengan enersi psikologis. Enersi psikologis ini mendorong munculnya perilaku dalam rangka memberikan pemuasan terhadap kebutuhan tadi. Misalnya insting haus memunculkan enersi psikis yang mendorong terjadinya perilaku untuk mencari minuman dan inting lapar memunculkan enersi psikis yang mendorong organisme untuk mendapatkan makanan.

Dalam kaitannya dengan proses-proses instingtif menyangkut beberapa hal yaitu: sumber (source), tekanan (pressure), tujuan (aim)  dan objek (object). Sunber dari insting adalah proses fisiologis yaitu kebutuhan (need). Tekanan adalah sejumlah kekuatan dalam proses instingtif, yang kekuatannya tergantung pada jumlah enersi yang ada dalam insting tersebut. Semakin besar enersi yang ada di dalam insting maka akan semakin besar pula tekanannya. Tujuan dari insting adalah mendapatkan pemuasan dengan cara menghilangkan atau meredusir stimulasi yang menimbulkan tegangan. Objek dari insting adalah benda-benda yang dapat meredusir atau menghilangkan insting dalam arti memberikan pemuasan terhadap kebutuhan. Misalnya air adalah objek yang dapat menghilangkan insting haus dan makana adalah objek yang dapat Imenghilagkan insting lapat.

Mekanisme munculnya perilaku menurut Freud sebagai mekanisme penyebaran enersi psikologis dari struktur kepribadian yang satu ke struktur keparibadian yang lain yaitu id ego dan super ego. Id sebagai aspek fisiologis memberikan pelayanan dalam rangka pemuasan terhadap kebutuhan dengan suatu prinsip yang disebut dengan prinsip kesenangan (pleasure principle), yang dilayani melalui suatu proses yang disebut dengan proses primer. Bentuk layanan proses primer adalah refles-refleks dan berhayal.  Berkhayal disini maksudnya membayangkan atau bermimpi tentang objek pemuasan. Misalnya, bila dalam diri seseorang membutuhkan makanan, maka yang akan muncul adalah insting lapar. Untuk menghilangkan insting lapar tadi, id hanya mampu membayangkan atau bermimpi tentang makanan. Memang, proses tersebut mampu menghilangkan atau mereduksi ketegangan yang disebabkan karena kebutuhan tadi, tetapi sifatnya hanya sementara, dalam arti bukan pemuasan yang realistis, maka enersipsikologis di kirim ke ego yang memiliki prinsip kerja kenyataan (reality principle). Kemudian, ego sebagai aspek psikologis dari kepribadian mengambil alih upaya pemuasan dengan cara mengingat, berfikir dalam rangka upaya menemukan obyek pemuasan dalam hal ini makanan yang realistis untuk orang yang lapar. Freud berpendapat bahwa dalam kehidupan, seseorang  tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan hidupnya dengan obyek-obyek yang riil secara materi belaka. Karena dalam kenyataan ia akan berhadapan dengan hal-hal yang sifatnya non materi yaitu nilai-nilai, baik itu nilai-nilai moral maupun nilai-nilai sosial. Oleh karena itu sekalipun ego sudah menemukan objek pemuasa yang realistis, ego masih mengirim enersi psikologis ke super ego yang memiliki prinsip kerja kesempurnaan (perfection principle). Enersi psikologis dikirim oleh ego ke super ego, dengan maksud untuk meminta pertimbangan apa objek yang realistis tadi tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral misalnya norma-norma agama atau norma-norma sosial. Apabila super ego memberikan persetujuan, dalam arti upaya pemuasan yang akan dilakukan tidak bertentangan dengan norma-norma (agama, sosial, dan moral), maka dimulailah upaya pemuasan. Memang, adakalanya upaya pemuasan dilakukan tanpa pertimbangan dari super ego. Ini biasanya dilakukan orang-orang yang super egonya tidak berkembang dengan baik. Orang yang super egonya  tidak berkembang dengan baik. Orang yang super egonya tidak berkembang dengan baik atau tidak berkembang secara normal, dimana perilakunya cenderung impulsif orang tersebut dikategorikan pada orang yang tidak bermoral.

Dalam kaitannya dengan teori motivasi sebagian ahli menggolongakn teori Freud ini dalam kelompok teori insting, tapi sebagian ahli lain mengelompokkannya dalam teori kognitif. Karena dalam teori Freud jelas tingkah laku itu muncuk tidak sema-mata karena adanya enersi psikologis yang bersumber dari insting saja, tetapi muncul setelah adanya pertimbangan super ego (keputusan moral) dan atas koordinasi dari ego. Teori Freud ini biasanya dikelompokkan dalam teori insting, tetapi juga dijadikan sebagai acuan dalam teori motivasi yang berpendekatan kognitif.

KONRAD LORENZ DAN NIKO TIMBERGEN

Pandangan Lorenz dan Timbergen dalam hal motivasi seperti halnya para teoretisi yang berpendekatan insting (biologis), didasarkan pada konsep etologi dimana konsep etologi sendiri didasarkan pada teori evolusi dari Darwin. Teori evolusi telah banyak memberikan kontribusi dalam bidanga psikologis terutama dalam kaitannya adaptasi manusia terhadap lingkunganya. Organisme, oleh Darwin dikonsepsikan sebagai tempat berkumpulnya berbagai macam kebutuhan, dimana setiap kebutuhan tadi memerlukan upaya pemuasan dengan bermacam-macam tindakan. Berbagai macam cara dalam rangka pemuasan kebutuhan tersebut oleh Darwin disebut sebagai upaya atau perjuangan dalam rangka mempertahankan eksistensinya (model or survival) sebagai mahluk hidup. Model for survival ini adalah cara organisme untuk mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungannya dalam rangka mempertahankan hidupnya.

Dalam  teori mitivasi Lorenz dan Timbergen ada beberapa istilah yang merupakan konsep pokok enersi yang mengarahkan organisme pada aktivitas khusus (action specific energy),  mekanisme pelepas bawaan (innate releasing mechanism), stimulus kunci (key stimuli) atau stimulus sinyal atau stimulus tanda (sign stimuli) , pemicu sosial (social releaser) , pola-pola tindakan tetap (fixed action pattern) , perilaku konsumatori, perilaku atetitif, aktivitas vacum (vacum activity) gerakan-gerakan bermaksud (intention movement), perilaku  konflik (conflict behavior),  rantai-rantai reaksi (reaction chains), imprinting dan aktivitas vakum.

Stimulus Kunci

Setiap perilaku memiliki enersinya sendiri yang oleh Lorenz dan Timbergen disebut action specific energy. Kemunculan setiap perilaku bisa dihambat atau dipicu oleh suatu mekanisme pemicu bawaan yang disebut dengan innate releasing mechanism. Mekanisme pemacu bawaan ini bekerja untuk menyalurkan enersi, sehingga muncul aktivitas apabila mendapatkan stimulasi dari objek ekternal. Keduanya (mekanisme pemicu bawaan dan objek ekternal) bekerja seperti halnya mekanisme sebuah kunci yang dapat dibuka hanya dengan anak kuncinya. Objek eksternal yang berkaitan dengan kemunculan mekanisme pemicu bawaan tadi disebut dengan stimulus kunci (key stimuli atau sign stimuli) . Misalnya makanan, adalah stimulus kunci bagi kondisi lapar yang akan memicu munculnya perilaku yang berkaitan dengan perilaku makan. Stimulus kunci disebut sebagai pemicu sosial (sosial releaser) apabila stimulus eksternal dimaksud datang dari organisme lain. Misalnya, munculnya perilaku menyerang dari seekor stickleback jantan yang sedang menjaga daerah teritorialnya apabila ia melihat ikan stickleback lain yang bertanda merah di perutnya. Tanda merah di perut tadi merupakan stimulus tanda (sign stimuli) yang mengidikasikan kalau ikan yang bersangkutan adalah ikan jantan. Bulu badan yang mencolok, bau badan , tanda-tanda organ seksual sekunder seperti payudara serta gerakan-gerakan tubuh tertentu, bisa menjadi stimulus kunci yang dapat memicu munculnya perilaku seksual bagi manusia seperti halnya tanda merah yang ada di perut ikan stickleback tadi, menurut Lorenz dan Timbergen merupakan pemicu sosial.

Stimulus kunci dalam kondisi normal kadang-kadang tidak cukup kuat untuk memicu munculnya tingkah laku tertentu. Ini dibuktikan oleh pengamatanTimbergen. Timbergen menempatkan telur lain warna putih dengan bintik-bintik hitam diantara telur asli dari burung oystercacher yang berwarna coklat muda dengan bintik-bintik coklat tua. Ternyata burung tadi lebih memilih telur lain yang berwarna putih dengan bintik-bintik hitam untuk dierami dari pada telurnya sendiri. Pada percobaan lain, Timbergen menempatkan telur ayam yang tentunya jauh lebih besar dari telur burung oystercatcher dan dicat dengan bintik-bintik sesuai dengan warna aslinya. Ternyata burung oystercatcher lebih tertarik pada telur yang lebih besar, dibanding dengan telur asli yang berukuran normal. Suatu eksperimen yang menggunakan subyek burung gereja memperkuat teori Timbergen ini. Seekor burung gereja betina diberi stimulus dua ekor burung gereja jantan. Jantan yang satu di kepalanya diberi jambul yang terbuat dari tiga butir mutiara kecil dikomposisikan dengan bulu yang ditempelkan diatas rangkaian mutiara tadi dengan posisi berdiri tegak, sehingga kelihatan seperti mahkota. Jantan yang lain dibiarkan seperti apa adanya tidak diberi aksesoris apapun. Kemudian apa yang terjadi ? Ternyata si betina lebih tertarik pada jantan dengan jambul palsu di kepalanya (acara Discovery, TPI jam 19.00 Tgl. 7 mei 2002). Stimulus-stimulus yang tidak seperti biasanyadan ternyata lebih efektif dalam memunculkan tingkah laku seperti terurai di atas tadi, oleh Timbergen disebut dengan stimulus supernormal (supernormal stimuli) .

Perilaku Konsumatori, Perilaku Apetetif dan Aktivitas Vakum

Perilaku instingti menurut Lorenz dan Timbergen merupakan merupakan aktivitas dari organisme dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Ada dua macam perilaku instingtif yaitu perilaku konsumatori dan perilaku apetitif.

Perilaku konsumatori merupakan pola tindakan tetap (fixed action pattern) . Perilaku ini sifatnya bawaan, steriotipe, kemunculannya spontan apabila memiliki cukup enersi, tidak menunjukkan variasi, serta terkoordinasi dengan baik. Perilaku konsumatori ini memiliki pola respon yang tetap yang tertuju  pada stimulus tertentu (stimulus kunci) dan tidak membutuhkan dorongan dari faktor eksternal selain stimulus kunci yang berkaitan. Misalnya gerakan-gerakan mulut, geraham dan lidah pada perilaku  mengunyah makanan, polanya akan tetap demikian selamanya. Organisme hanya akan merespon  stimulus yang berupa suara yang diterimanya melalui telinga dalam perilaku mendengar, atau hidung hanya dapat merespon terhadap stimulus kunci yang berupa wangi-wangian dan tidak bisa dilatih untuk merespon terhadap stimulus yang berupa suara.

Perilaku apetitif adalah perilaku yang sifatnya fleksibel, dapat dimodifikasi melalui proses belajar. Misalnya perilaku tikus-tikus percobaan belajar mendaptkan makanan dengan menekan-nekan tombol. Pada organisme yang sudah lebih tinggi tingkat evolusinya seperti manusia misalnya, tidak hanya belajar bagaimana, dengan cara apa dan di mana mendapatkan objek pemuasan terhadap kebutuhkannya, tetapi juga belajar bagaimana cara meningkatkan kepuasan dengan objek-objek pemuasan yang ada. Misalnya seorang yang lapar, tidak hanya berhenti pada upaya mendapatkan makanan lalu memakannya, tetapi mungkin justru berusaha untuk membuat variasi-variasi, atau bahkan menunda untuk makan dengan maksud agar mendapatkan kepuasan yang lebih besar. Perilaku seperti tersebut diatas jelas didapat dari pengalaman yang terbentuk melalui proses belajar.

Selain kedua perilaku diatas menurut Lorenz, ada semacam perilaku yang disebut dengan aktivitas vakum ( vakum activity ) . Hal ini dikemukakan berdasr hasil pengamatannya terhadap burung piaraannya. Biasanya burung tersebut terbang mengitari ruangan dengan maksud untuk menangkap serangga. Tetapi ada kalanya burung tadi terbang berputar-putar mengitari ruangan padahal tidak dalam rangka menangkap serangga dan di ruangan itu memang tidak ada serangga.

Aktivitas vacum ini terjadi ketika enersi dalam organisme berakumulasi karena luapan enersi pada ambang tertentu, dimana pada saat itu tidak ada stimulus kunci. Akumulasi dari enersi tadi cukup kuat untuk menekan katup (mekanisme pelepas bawaan), sehinga secara spontan katup terbuka dan muncullah perilaku yang disebut dengan aktivitas vakum tadi. Aktivitas vakum ini tentunya terjadi juga pada manusia. Misalnya berjalan-jalan ke kompleks pertokoan tanpa adanya tujuan seperti berbelanja. Bahkan kadang-kadang aktivitasnya tadi berada diluar kontrol sadarnya.

Gerakan-gerakan Bertujuan

Gerakan-gerakan bertujuan (intention movements) adalah gerakan yang mengidikasikan intensitas rendah, tidak sempurna dalam arti tidak cukup informatif untk menyampaikan sebuah pesaan, bahkan kadang-kadang kabur. Awalnya gerakan bertujuan ini tidak komunikatif karena tidak lengkap dan tidak jelas seperti tersebut tadi, tetapi melalui proses ritualisasi ( dilakukan secara berkala setiap kesempatan dengan arti tertentu ) pada akhirnya juga memiliki fungsi komunikatif.

Gerakan tubuh tertentu sering juga memiliki arti tertentu dalam komunikasi manusia yang juga dikenal dengan bahasa tubuh (body language) seperti ekspresi wajah dan gerakan-gerakan tubuh yang lain. Misalnya, ekspresi wajah pada suatu organisme dapat menggambarkan kondisi senang, sedih dan marah. Dari ekspresi wajah, juga dapat ditangkap pesan bahwa yang bersangkutan siap menyerang atau berharap untuk meminta pertolongan. Anggukan dan gelengan kepala yang pada awalnya tidak lebih dari gerakan kepala yang mengarah ke bawah dan ke samping, setelah melalui ritualisasi dalam suatu komunitas dan sistem budaya tertentu akhirnya memiliki arti tertentu juga yaitu setuju (anggukan) atau tidak setuju (gelengan).

Bahasa verbal yang dimaksud sudah bergeser dari arti harfiahnya juga merupakan suatu fernomena dari gerakan bermaksud ini. Misalnya perilaku diam (tidak mengucapkan sepatah katapun) bila melihat tindakan orang lain, biasanya diartikan sebagai tanda setuju, berkenan, atau setidak-tidaknya dapat diartikan tidak ada respon apa-apa. Tetapi, konon kabarnya kalau pak Harto (Suharto mantan Presiden R.I) diam itu tidak sekedar tidak setuju terhadap apa yang dihadapi, bahkan itu artinya ia marah. Atau inggih (bahasa jawa) berarti iya. Tetapi apabila kata inggih diucapkan dengan nada agak tinggi, artinya berubah menjadi tidak. Contoh lain adalah kata dibina. Dibina biasanya berarti diarahkan, dibimbing, dibantu dalam perkembangannya; pokoknya dibantu untuk menjadi lebih baik. Tetapi konon kabarnya kata dibina di lingkungan institusi tertentu di negara kita ini, merupakan akronim dari kata dibinasakan. Gerakan-gerakan bermaksud yang sudah memiliki fungsi komunikasi tertentu tadi, pada akhirnya berfungsi sebagai pemicu sosial (social releaser) dalam dinamika munculnya perilaku tertentu.

Perilaku Konflik

Dalam suatu situasi atau waktu tertentu kemungkinan organisme menghadapi dua atau lebih stimulus . Situasi demikian akan memunculkan kondisi motivasional yang disebut dengan kondisi konflik yang tentunya akan mendorong pada munculnya suatu perilaku yang disebut dengan perilaku konflik. Dalam hal ini ada empat macam perilaku konflik yaitu : perilaku ambivalen suksesif, perilaku ambivalen simultan dan perilaku yang dialiharahkan (redirected).

Perilaku ambivalen suksesif merupakan refleksi dari dua kondisi motivasional yang mendorong organisme untuk memilih antara menghadapi sekaligus menghindar dari stimulus yang sekaligus menjadi objek dari perilaku. Sebagai contoh, perilaku yang muncul dari dorongan untuk menyerang atau melarikan diri dari seekor ikan stickleback jantan apabila ada ikan jantan lain yang melanggar batas wilayahnya (angguk – geleng Freud)

Perilaku ambivalen simultan adalah tingkah laku yang muncul dalam situasi konflik dimana dua kondisi motivasional yang bertentangan diekspresikan secara bersama dalam waktu yang sama. Disini, dicontohkan bila seekor kucing membungkukkan punggung merupakan ekspresi dari dorongan untuk menyerang (kaki belakang menjorok kedepan) sekaligus merefleksikan dorongan untuk melarikan diri (kaki depan ditarik ke belakang). = Reaksin formation (Freud)

Perilaku yang dialih arahkan sinonim dengan istilah displamen dan sublimasi menurut konsep Sigmund Freud. Alih arah yang dimaksud adalah pemindahan arah dari ojek yang berbahaya atau beresiko pada objek yanglebih lemah tidak begitu berbahaya ayau beresiko tinggi. Arah pemindahan objek tersebut bisa tertuju pada suatu organisme seperti manusia atau benda-benda. Dicontohkan oleh Timbergen, dorongan menyerang dan melarikan diri pada seekor Stickleback jantan diarahkan pada perilaku membuat sarang (sublimasi ). Atau dorongan agresif dari seorang suami yang mengalami stres karena selalu mendapatkan omelan dan marah-marah dari pimpinannya di tempat kerja, mengarahkan dorongan agrsifnya terhadap istri dan anaknya di rumah. Hal ini dilakukan, karena istri atau anaknya dirumah. Hal ini dilakukan, karena istri atau anaknya tidaklah lebih berbahaya daripada pimpinannya. Sebaliknya, sering juga terjadi pada seorang suami yang mengalami stres karena tidak berdaya menghadapi istri yang mungkin mengalami Sindrom Delilah dirumah, kemudian melampiaskan dorongan agresifnya pada bawahannya di tempat kerja.

Rantai-rantai Reaksi

Selain perilaku sederhana yang merupakan respon terhadap stimulus kunci sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, Lorenz juga mengemukakan tentang adanya perilaku yang lebih kompleks. Kompleksitas dari perilaku tersebut utamanya dibentuk oleh insting yang sifatnya bawaan dan berinteraksi dengan insting yang didapat melalui proses belajar yang disebut dengan interkalasi pengkondisian insting (instict conditioning intercalation) . Perilaku ini terdiri dari rangkaian-rangkaian reaksi yang disebut dengan rantai-rantai reaksi (reaction chains).

Rantai-rantai reaksi terdiri dari rangkaian tingkah laku yang sebenarnya berdiri sendiri. Maksudnya setiap mata rantai reaksi, merupakan suatu segmen aktivitas yang terdiri dari komponen enersi spesifik dengan stimulus kuncinya sendiri. Tetapi walaupun demikian, keseluruhan rantai reaksi tadi, merupakan suatu kesatuan yang munculnya berselang-seling sampai tujuan akhir dari perilaku tercapai. Ini dicontohkan oleh Timbergen perilaku kawin dari sepasang ikan stickleback. Begitu muncul ikan stickleback betina, si jantan mengadakan attaraksi dengan menari-nari zigzag. Tarian zigzag tadi merupakan stimulus kunci yang mendorong si betina untuk menyambut dengan gerakan-gerakan yang merupakan stimulus tanda (sign stimuli) bahwa ia siap untuk bercumbu. Kesediaan bercumbu yang ditunjukkan oleh si betina tadi, menstimulasi (stimulus kunci) munculnya mata rantai berikutnya yaitu si jantan bereaksi lagi dengan  perilaku lain lagi yaitu membimbing dan mengarahkan si betina ke sarang yang sudah tersedia. Selanjutnya terbentuk rantai reaksi lanjutan yaitu si betina mengikuti dan masuk ke sarang dan kemudian si jantan membuahi dengan menggetar-getarkan badannya sebagai mata rantai yang lain lagi. Jadi munculnya si betina sampai perilaku pembuahan dari si jantan terhadap si betina, kemudian si betina bertelur, mengerami sampai telurnya menetas, merupakan rantai-rantai reaksi yang merupakan interkalasi antara faktor bawaan dan faktor belajar.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sulit kita memahami pola perilaku dengan mekanisme rantai-rantai reaksi ini. Misalnya ada sebuah kasus yang diberitakan sebuah surat kabar, seorang gadis remaja melapor ke polisi bahwa semalam ia telah diperkosa oleh seseorang di sebuah hotel. Bagaimana kronologisnya ?  Sekitar jam 19.00 sore si wanita tadi keluar dari sebuah apotik, dan menunggu kendaraan umum untuk pulang, setelah membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit. Kemudian, ada sebuah kendaraan peribadi mengahampiri dan setelah sedikit berbasa-basi si pengendara mobil tersebut menawarkan jasa untuk mengantarkannya pulang. Dalam benak si wanita ini adalah tawaran jasa baik lumayan hitung-hitung dapat menghemat ongkos, tidak usah lama-lama menunggu kendaraan umum demi efisiensi waktu, dan si pengendara boleh juga, sopan, keren dan tampan lagi. Pokoknya okelah. Setelah di dalam mobil si pemberi jasa mulai bergerilya dengan pembicaraan yang ringa-ringan, sederhana,  sampai pada pembicaraan yang merupakan jurus rayuan. Memperhatikan respon si wanita, dalam benak si lelaki, orang  ini oke juga, lalu menawarkan bagaima kalau kita cari minum dulu. Si wanita dengan senang hati menerima tawaran tadi. Kemudian mereka sepakat untuk jalan-jalan dulu dengan kendaraan sebelum pulang. Rupanya si gadis tadi sudah mulai lupa kalau ibunya yang sedang sakit lagi menunggu obat yang ia beli di apotik tadi. Setelah melalui beberapa mata rantai reaksi yang lain, tibalah mereka di sebuah hotel, dan besok harinya si wanita melaporkan kalau ia telah diperkosa. Pertanyaannya, dalam kasus ini siapa yang harus dipersalahkan ? Mungkinkah akan terjadi perilaku perkosaan tadi apabila mata rantai reaksi diputus terlebih dahulu sebelumnya ? Misalnya, si wanita tidak dengan mudah menerima tawaran antaran gratis dari orang yang sama sekali belum pernah ia kenal sebelumnya ? atau ketika si lelaki mulai melempar aksi rayuan gombalnya si wanita tidak menanggapi dan minta diturunkan saja ? Kenapa perkosaan itu kok sampai terjadi di sebuah hotel ?

Imprinting

Salah satu beentuk dari interaksi antara faktor bawaan dan faktor belajar menurut Lorenz, adalah impringting. Imprinting sebagaimana yang disebut dengan insting sementara (transitory instinct) oleh William James, adalah insting yang hanya gterjadi dalam periode tertentu dalam rentang kehidupan organisme. Impriting merupakan proses sosialisasi dari organisme muda dalam bentuk kelekatan (attachement) terhadap organisme tua. Sebagai contoh, anak bebek yang baru ditetaskan berusaha untuk mengikuti kemana saja arah gerakan objek yang pertama kali dilihatnya setelah penetasan. Biasanya anak bebek mengikuti induknya tetapi apabila yang dilihat eprtama kali bukan induknya, misalnya orang, ia akan mengikuti orang tadi dan apabila yang dilihat pertama kali adalah boneka atau bola karet yang bergerak, maka objek yang akan diikutinya adalah boneka atau bola karet tadi. Kelekatan anak-anak bebek terhadap objek yang pertama kali dilihatnya tadi merupakan hasil dari proses belajar, sedangkan proses yang mengarah pada kelekatan bersifat bawaan. Oleh karena itu Lorenz berkesimpulan bahwa imprinting ini merupakan kombinasi antara faktor bawaan dan fakktor belajar.

Imprinting sebagai insting yang sifatnya sementara tadi, menurut Lorenz memiliki tiga karakteristik. Pertama proses kelekatan hanyalah terjadi dalam masa tertentu yaitu selama masa kritis dalam kehidupan organisme. Masa kritis dimaksud adalah antara 13 sampai 16 jam setelah penetasan anak bebek tadi. Masa ini adalah masa yang sangat sensitif untuk proses belajar, di mana kemunculan imprinting lebih siap, bila dibandingkan dengan waktu sebelum dan sesudah masa kritis tadi.

Kedua, proses imprinting adalah stereotype dan tidak dapat diubah, terjadi hanya satu kali dan tidak bisa dipadamkan. Misalnya, anak bebek yang sudah mengarahkan objek objek imprintingnya terhadap bebek dari boneka, ia akan tetap melakukan kelekatannya terhadap boneka tadi dan tidak bisa dialihkan ke objek lain. Secara tidak langsung, Lorenz menyatakan kkelekatan yang dibentuk oleh imprinting juga mengarahkan organisme pada kecenderungan perkembangan perilaku seksual. Kecenderungan atau eksukaan terhadap objek tertentu dalam kaitannya dengan perilaku seksual organisme dewasa, merupakan akibat dari pola kelekatan dalam imprinting ini.  Hal tersebut terbentuk melalui suatu poses identifikasi yang disebut dengan intraspecific identification. Lorenz membentuk perilaku impriting seekor angsa terhadap dirinya sejak ditetaskan. Setelah dewasa angsa tadi menolak untuk mengadakan hubungan seksual dengan spesiesnya, akan tetapi menunjukkan perilaku seksual yang mengarah pada objek inprintingnya yaitu Lorenz sendiri. Perubahan imprinting pada binatang mungkin terjadi, tergantung pada jenisnya, apakah nidifogous atau nidicolous.  Nidifogous adalah spesies yang langsung meninggalkan sarang setelah ditetaskan; sedangkan nidicolous spesies yang tinggal di sarang lebih lama. Spesies nidicolous menunjukkan kelekatan lebih permanen terhadap objek imprinting, tetapi walaupun demikian, kadang-kadang secara seksual masih tertarik juga pada spesiesnya. Imprinting yang terjadi pada nidifogous terhadap spesies lain tidak menghambat mereka untuk kawin dengan sesama spesiesnya. Lebih lamanya masa tinggal di sarang dari nidicolous yang menyebabkan lebih lamanya pula kelekatannya terhadap objek imprinting tidaklah semata-mata bawaan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti misalnya faktor reinforcement dari induknya (monterson, lih . Petri, 1981).

Ketiga, kemunculan imprinting bebas dari pengaruh reward. Maksudnya kemunculan imprinting terbebas dari pengaruh penguatan eksternal, spontan, tidak melalui tiral and error dimana hal tersebut merupakan tahapan dari proses belajar.

Bagaimana imprinting pada manusia ? Imprinting ini terjadi juga pada manusia, yang tentunya tidak seprimitif dengan apa yang terjadi pada binatang. Perilaku yang berkaitan dengan imprinting ini dapat dilihat dari perilaku bayi pada babysitter nya. Ia akan lebih lekat pada baby sitter nya dibandingkan dengan ibunya sendiri sekalipun yang pertama kali dilihatnya adalah ibunya dan ia juga mendapatkan ASI dari ibunya. Ini terjadi  karena sebagian besar waktunya digunakan untuk berinteraksi dengan baby sitter tadi. Apalagi ia tidak mendapatkan  ASI dari ibunya dan ibunya tidak cukup waktu untuk berinteraksi dengan bayi tadi.

Kritik terhadap Teori Lorenz dan Timbergen

Teori Lorenz dan Timbergen yang dikenal dengan teori insting moderen, juga tidak terlepas dari kritik dari banyak ahli yang lain, seperti halnya yang ditujukan pada teori insting lama dari Williams James dan Williams McDougall, yaitu tidak adanya pemisahan yang jelas yang mana tingkah laku instingtif yang sifatnya bawaan dan yang mana tingkah laku yang didapat melalui proses belajar.  Teori-teori insting ini terlalu menyederhanakan semua tingkah laku dengan menganggap semua tingkah laku sifatnya bawaan. Padahal semua  tingkah laku dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor bawaan dan faktor lingkungan. Dicontohkan, bagaimana pola respon mematuk dari burung camar yang berubah menjadi lebih akurat dan lebih efisien melalui pengaman dalam proses perkembangannya. Hal ini terjadi pola pada anak ayam yang berkembang menjadi lebih akurat dan efisien dan lebih mengarah pada objek khusus yang berkaitan dengan kebutuhannya seiring dengan semakin meningkatnya kedewasaannya.

Kritik lain terhadap teori Lorenz dan Timbergen ini ialah tentang konsep enersi sehubungan dengan tingkah laku pemindahan objek (displecement) dan aktivitas vakum yang dianggapnya sebagai luapan enersi yang ada dalam organisme. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam uraian terdahulu, bahwa aktivitas vakum terjadi karena tekanan enersi yang cukup kuat untuk membuka katup mekanisme pemicu bawaan, sekalipun tanpa kehadiran stimulus kunci. Mengenai pemindahan objek dan aktivitas vakum, sebetulnya dapat diterangkan berdasarkan suatu asumsi akan adanya sejumlah kemungkinan respon terhadap suatu stimulus yang dapat muncul secara hirarkis. Dari sejumlah kemungkinan respon tadi, ada beberapa atau salah satu di antaranya lebih dahulu mendapatkan kesempatan untuk muncul. Jadi tingkah laku pemindahan objek dan aktivitas vakum lebih merupakan suatu respon yang mendapatkan kesempatan muncul terlebih dahulu di antara kemungkinan-kemungkinan respon yang lain, dibandingkan dengan sekedar percikan dari akumulasi enersi dalam organisme.

RANGKUMAN

Perilaku menurut pendekatan fisiologis yang juga disebut pula dengan pendekatan insting, pada mulanya bersumber pada kebutuhan (need) yang sifatnya fisiologis, dan insting itu sendiri menurut pendekatan ini berkonotasi dengan motivasi. Kebutuhan tadi menimbulkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam organisme. Ketegangan dan ketidak seimbangan dimaksud, memunculkan enersi psikologis yang mendorong organisme untuk melakukan sesuatu agar kebutuhan fisiologis terpenuhi dengan tujuan agar ketegangan dan ketidakseimbangan organisme dapat teratasi.

Sekalipun teori pendekatan fifiologis ini cenderung menekankan pada faktor fisiologis yang sifatnya internal, tetapi secara implisit juga mengakui betapa pentingnya faktor-faktor non fisiologis atau faktor-faktor eksternal dalam proses timbulnya perilaku. Sebagaimana yang telah dikemukakan secara gamblang dalam uraian-uraian terdahulu, misalnya William James dengan konsep ideo motor nya dan William McDougall dengan konsep kognitif, afektif dan konatifnya menunjukkan bahwa pendekatan ini juga mengakui faktor non fisiologis sebagai faktor yang ikut menentukan munculnya perilaku. Freud, sekalipun baginya yang terpenting dalam proses munculnya perilaku adalah insting, tetapi menurut dia pemuasan terhadap kebutuhan tidak akan terpenuhi secara realistis dan sempurna, tanpa adanya peranan ego (aspek psikologis) dan super ego (aspek moral) dari kepribadian. Lorens dan Timbergen juga menytakan bahwa betapa pentingnya peranan stimulus kunci atau pencetus eksternal sebagai stimulator bagi mekanisme bawaan yang sifatnya instingtif, sehingga timbul perilaaku. Jadi, dengan demikian teori motivasi dalam pendekatan fisiologis (insting) ini juga tidak mengabaikan faktor-faktor lain di luar insting sebagai faktor yang terpenting dalam proses timbulnya perilaku.

DAFTAR PUSTAKA

Buck, R. 1988. Human Motivation and Emotion, 2th Edition, John Wiley & Sons, New York.

Chauhan, S.S. 1978. Advanced Educational Psychology, Vikas Publishing House, Pvt. Ltd; New  York.

Corsini, R.J. and Ozaki, B.D. 1984. Enzyclopedia of Psychology, Volume 2, Intercience Publication, John Willey & Sons, New York.

Corsini, R.J. 1987. Corcice of Encyclopedia of Psychology, John Willey & Sons, New York.

Daniel, T.L. and Esser, J.K. 1980. Intrinsic Motivation as Influenced by Rewards, Task Interest and Task Stucture, Journal of Applied Psychology, Vol. 65, No. 5. 566-573.

Davis, K. and Newstrom, J.W. 1989. Human Behavior at Work 8 th Edition, McGraw-Hill International Editions, New York.

Deci, E.L; Cassio, W.F. and Krussel, J. 1975. Cognitif Evaluation Theory and some Comments on the Calder Staw Critique, Journal of Personality and Social Psychology, 31, 18-35.

Deckers, L.2001. Motivation, Biological, Psychological and Environmental, Allyn and Bacon , Boston.

Franken, R.E. 1982. Human Motivation, Brook / Cole Publishing Company, Motery, Calivornia.

————– 2002. Human Motivation, 5th Edition Thomson Publisher, United Kingdom.

Geen, R.G. 1995. Human Motivation Social Psychological Approach, Brooks/Cole Publishing Company, Pcivic Grove, California, U.S.A.

Hall, C. and Lindzey, G. 1985. Introduction to The Theories of Personality, John Wiley and Sons, New York.

Jones, J.A. 1963. Principle of Guidance, McGraw-Hill Book Company Inc, New York.

McMahon, F.B. and McMahon, J.W. 1986. Psychology The Hybrid Science, 5 th Edition, The Dorsey Press, Chicago, Illinois.

Pervin, L.A. 1984. Personality, 4 th Edition, John Wiley & Son, New York.

Petri, H.L. 1981. Motivation Theory and Research, Wadsworth publishing company, Belmont, California.

————– 1996. Motivation, Theory,  Research and Applications, Fourth Edition,

Brooks/Cole Publishing Company, New York.

Geen, G.R. 1995. Human Motivation : A social Psychology Approach, Brooks/Cole Publishing Company, Pacific Grove, California.

Maret 20, 2010 Posted by | Psikologi Motivasi | 10 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.